ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA KONVEKSI DUCK DUCK ”.
BAB I

Karena termasuk usaha keluarga yang masih berskala kecil maka pembagian tugas pun tidak terstruktur dengan jelas, namun adapun tugas-tugas untuk masing-masing bagian dapat kami simpulkan sbb :
�� Pemilik/Pengelola
Pemilik/Pengelola disini adalah Damayanti dan Wulandari. Adapun tugas-tugas yang dilakukan oleh mereka antara lain :
�� Membeli dan memasok persediaan bahan baku
�� Memasarkan produk-produk ke toko-toko langganan
�� Membuat laporan keuangan
�� Mengecek kegiatan produksi seminggu sekali
�� Bagian Produksi
Yang dimaksud bagian produksi disini adalah ibu Suhita. Adapun tugas-tugas yang dilakukannya antara lain :
�� Mengawasi proses produksi
�� Mendesain Pola
�� Mengatur tenaga kerja
�� Bagian Administrasi
Bagian administrasi disini adalah bapak Tunario Trenggono. Adapun tugasnya antara lain :
�� Membayar tagihan-tagihan
�� Mengatur administrasi sehari-hari
�� Karyawan
Tenaga karyawan dikelompokkan kedalam pengerjaan tugas-tugas tertentu. Jumlah karyawan ada 12 orang, adapun pengelompokan kerjanya sbb :
�� Bagian menggunting pola = 2 orang
�� Bagian menjahit dan obras = 5 orang
�� Bagian finishing = 5 orang
3.2. Data yang Digunakan
Bahan baku informasi atau data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah data-data keuangan berupa biaya-biaya yang dipisahkan kedalam biaya variabel maupun tetap beserta dengan penjualan yang terealisasi pada periode yang akan diteliti yaitu tahun 2004. Data yang digunakan itu sekurang-kurangnya memenuhi syarat data yang baik yaitu ada hubungannya dengan persoalan/permasalahan yang akan diteliti atau dipecahkan.
Data tersebut nantinya akan diolah dan dianalisis lebih lanjut menurut metode yang dipilih dalam penelitian ini.
Menurut cara memperolehnya, data yang digunakan merupakan data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah dari tangan pertama dalam hal ini adalah konveksi DUCK DUCK itu sendiri. Sedangkan menurut sifatnya data merupakan data kuantitatif yang berbentuk angka.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data erat sekali hubungannya dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan, pengumpulan data hendaknya memperhatikan aspek validitas.
Berhubungan dengan data yang digunakan yaitu data primer, maka dalam pengumpulannya penulis memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya yang tinggi yaitu pada metode observasi dan wawancara, meski demikian keuntungan penggunaan data primer ialah terpercaya.
Metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis antara lain :
a. Metode Observasi
Melalui metode ini, penulis mendatangi konveksi secara langsung untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Pengamatan yang dilakukan dimaksudkan agar penulis bisa lebih jelas memisahkan antara biaya tetap dan biaya variabel yang digunakan dalam proses produksi.
Observasi dilakukan pada tanggal 9 April 2005 sekitar jan 11.00-14.00 WIB. Penulis hanya sekali mendatang konveksi karena data yang diperoleh pada kunjungan pertama sudah cukup lengkap.
b. Metode Wawancara
Dalam pengumpulan informasi terutama yang berhubungan dengan profile objek penelitian dalam hal ini adalah konveksi DUCK DUCK, penulis memerlukan informasi yang diperoleh dari pemilik perusahaan dengan memberikan beberapa pertanyaan.
Selain itu, data keuangan yang diperlukan oleh penulis bisa didapatkan dengan menggunakan metode ini karena data tersebut dipegang oleh pemilik perusahaan. Namun karena pada saat penulis datang ke konveksi, pemilik konveksi sedang tidak ada di sana maka wawancara dilakukan pada ibu Suhita dan bapak trenggono ( pemilik pertama ) yang memang tempat tinggal mereka digunakan sebagai tempat usaha konveksi Duck Duck.
Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara tersebut antara lain adalah data mengenai biaya bahan baku, upah tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik , biaya tetap, volume produksi dan penjualan selama tahun 2004.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dibuat terlebih dahulu.
3.4. Alat Analisis yang Digunakan
Alat yang digunakan dalam penelitian untuk menganalisis permasalahan yang ini adalah :
3.4.1. Perhitungan Break Even (Impas)
Penentuan impas dengan teknik persamaan dilakukan dengan mendasarkan persamaan pendapatan sama dengan biaya ditambah laba. Sedangkan dengan pendekatan grafis dilakukan dengan cara mencari titik potong antara garis pendapatan penjualan dan garis biaya dalam suatu grafik (grafik impas).
A. Perhitungan Break Even dengan Pendekatan Aritmatik
Dengan menggunakan persamaan : y = cx – (bx +a)
Ket. : y = laba
c = harga jual
x = jumlah produk yang dijual
b = biaya variabel per unit
a = biaya tetap
cx = pendapatan penjualan
bx + a = total biaya

Ket : x’ = kuantitas yang dijual pada keadaan impas
Impas dalam rupiah penjualan dapat dicari dengan mengalikan rumus impas diatas dengan c, yaitu harga jual per satuan produk.

ket : cx = jumlah rupiah penjualan dalam keadaan impas
Cat. : 1 – b/c disebut dengan Marginal Income Ratio atau Contribution Margin Ratio, yaitu hasil bagi antara laba kontribusi dengan hasil penjualan.
Bukti : laba kontribusi = pendapatan penjualan – biaya variabel
= cx – bx


1. Sumbu datar (sb. x ) menunjukan volume penjualan yang dinyatakan dalam satuan kuantitas.
2. Sumbu tegak (sb. y ) menunjukan pendapatan penjualan dan biaya dalam rupiah. Karena skala yang berbeda , biasanya dalam penggambaran, sumbu tegak lurus dibawahnya dibuat penyesuaian seperti huruf z.
3. Pembuatan garis biaya dimulai dengan menarik garis biaya tetap lalu menarik biaya variabel pada setiap volume penjualan dengan biaya tetap. Setelah itu ditarik garis pendapatan penjualan pada setiap volume penjualan.
4. Impas terletak pada titik perpotomgan garis pendapatan dengan garis biaya. Bila titik perpotongannya ditarik kebawah maka akan diketahui jumlah volume penjualan pada titik impas, sedangkan jika ditarik kesamping maka akan diketahui jumlah penjualan pada titik impas.
5. Garis bawah titik impas merupakan daerah rugi, sedangkan diatasnya merupakan daerah laba
3.4.2. Margin of Safety
Margin of Safety merupakan selisih antara volume penjualan yang dianggarkan dengan volume penjualan impas

3.4.3. Shut Down Point
Titik penutupan usaha atau shut down point dapat dicari dengan menggunakan rumus :

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Pada saat ini, banyak perusahaan-perusahaan baik besar maupun kecil, yang berskala nasional maupun internasional bermunculan. Tentunya hal tersebut merupakan pertanda positif yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian nasional. Namun pada kenyataannya tidak bisa dipungkiri, beberapa perusahaan terutama perusahaan-perusahaan kecil gulung tikar yang salah satu penyebabnya dikarenakan biaya-biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
Secara umum perusahaan memiliki tujuan untuk memperoleh laba baik jangka panjang maupun jangka pendek. Dalam mencapai tujuan tersebut perusahaan mempunyai alat yaitu manajemen. Berhasil atau tidaknya perusahaan tergantung pada kemampuan manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsinya serta dalam melihat kemungkinan dimasa yang akan datang. Untuk itu manajemen dalam kegiatannya harus dapat merencanakan tujuan dan kegiatan dalam mencapai tujuannya tersebut. Hal ini tentunya selaras dengan fungsi pokok manajemen yaitu planning. Perencanaan ini penting bagi masa depan perusahaan baik untuk memperoleh protective benefit maupun positive benefit.
Kemampuan untuk mencapai laba yang optimal dapat ditentukan oleh manajemen yang baik terutama dalam perencanaan laba. Perencanaan laba yang baik akan mempengaruhi keberhasilan perusahan dalam memperoleh laba yang optimal.
Dalam perencanaan laba ini, harus diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi laba yaitu biaya, harga jual dan volume penjualan. Biaya memiliki implikasi bagi penentuan harga jual untuk mencapai laba yang dikehendaki. Kemudian harga jual ini mempengaruhi volume penjualan dan selanjutnya volume penjualan ini akan mempengaruhi volume produksi seperti siklus, volume produksi ini pun nantinya akan mempengaruhi biaya produksi dan seterusnya.
Untuk itu dalam penyusunan perencanaan laba, manajemen memerlukan berbagai informasi untuk menilai berbagai kemungkinan dan alternatif-alternatif keputusan dengan memperhatikan pengaruh dari keputusan yang akan diambil tersebut. Salah satu alat yang dapat digunakan manajemen dalam hal ini adalah analisis Break Even Point.
Tertarik dengan masalah diatas dan terdorong untuk mengetahui lebih jelas tentang analisis Break Even Point dalam penyusunan perencanaan laba perusahaan, maka penulis akan mencoba melakukan penelitian terhadap salah satu konveksi dalam usaha home industry sebagai objek penelitiannya. Dalam penulisan ini penulis mengangkat judul “ ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA KONVEKSI DUCK DUCK ”.
I.2. Rumusan dan Batasan Masalah
Dari permasalahan yang akan diangkat, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perhitungan analisis Break Even Point pada konveksi Duck Duck?
2. Informasi apa yang dapat diperoleh dari analisis Break Even Point ini bagi konveksi Duck Duck?
Sedangkan penulis akan membatasi masalah dengan hanya menggunakan data produksi dan penjualan serta biaya-biaya yang terjadi dalam konveksi selama tahun 2004. Produk yang akan diteliti adalah pakaian bayi dan analisis yang akan digunakan adalah analisis Break Even Point, Margin of Safety dan Shut Down Point.
I.3. Tujuan Penelitian
Dengan mengacu terhadap rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perhitungan analisis Break Even Point dan titik penjualan konveksi pada saat kondisi Break Even Point.
2. Untuk mengetahui volume penjualan yang harus dicapai oleh konveksi tersebut untuk mencapai laba yang ditargetkan.
I.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yang hendak diperoleh yaitu diantaranya :
1. Manfaat yang bagi penulis
penelitian ini memberikan manfaat bagi penulis yaitu menambah pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana berpikir ilmiah. Selain itu penelitian ini juga memberikan pengetahuan bagi penulis tentang bagaimana menerapkan teori mengenai Break Even Point ini kedalam praktek di lapangan dalam hal ini adalah di sebuah usaha konveksi yang memproduksi pakaian bayi.
2. Manfaat bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi bagi konveksi dalam hal ini mengenai volume penjualan yang harus dipertahankan oleh konveksi agar tidak menderita rugi dan berada pada titik impas serta volume penjualan untuk memperoleh laba yang direncanakan dengan perhitungannya.
3. Manfaat akademik
Penelitian ini dapat digunakan sebagai alat pembanding dan pembantu bagi penelitian sejenis dimasa yang akan datang atau juga dapat diteliti lebih lanjut. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi –informasi bagi keperluan studi lain dalam dunia akademis terutama bagi praktek dan pemanfaatan analisis Break Even Point dalam proses produksi nyata.
I.5. Metode Penelitian
Beberapa bagian penting yang akan digunakan dalam mendukung penelitian ilmiah ini antara lain :
I.5.1. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penulisan ini adalah sebuah konveksi yang tergolong dalam usaha home industry yang beralamat di Gg. Abesin no. 30 Bogor.
I.5.2. Data
Data yang penulis pergunakan disini adalah primer kuantitatif yaitu berupa data keuangan konveksi yang berisi biaya-biaya baik variabel maupun tetap serta penjualannya. Data yang kami pergunakan adalah data produksi, penjualan dan biaya tahun 2004.
I.5.3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan ini, untuk mendapatkan data dan informasi maka penulis menggunakan metode :
a. Metode Observasi
Disini penulis mendatangi konveksi tersebut untuk secara langsung mendapatkan data yang dibutuhkan, pengamatan langsung didalam konveksi ini juga termasuk dalam mengamati proses produksi dan bahan baku yang digunakan untuk memisahkan antara biaya tetap dan variabel.
b. Metode Wawancara
Dalam pengumpulan informasi, penulis mewawancarai nara sumber yang berkompeten dalam memberikan informasi dan data-data mengenai biaya, produksi dan penjualan yang terjadi dalam konveksi selama tahun 2004.
Dalam wawancara ini, penulis memberikan pertanyaan mengenai sejarah singkat berdirinya konveksi, kepengurusan konveksi dan kegiatan operasional konveksi serta data-data/informasi lain yang diperlukan.
I.5.4. Alat analisis yang digunakan
Untuk menganalisis permasalahan ini, maka penulis menggunakan alat analisis yang berhubungan dengan analisis Break Even Point yaitu perhitungan baik dengan pendekatan matematik ( mathematic approach ) maupun dengan
grafik ( grafik aproach ) yang juga disertai dengan perhitungan perencanaan laba yang ditargetkan. Sedangkan untuk alat analisis pendukung dipakai Margin Of Safety dan Shut Down Point.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Kerangka Teori
2.1.1. Pengertian Break Even
Kata Break Even Point berasal dari bahasa inggris yang bila diartikan kedalam bahasa Indonesia berarti tidak rugi, tidak laba, kembali pokok, pas atau yang sering dipakai yaitu impas.
Ada beberapa pengertian mengenai Break Even Point yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu antara lain :
A. Menurut Mulyadi ( 2001 ; 232 )
“Break Even Point adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak mengalami rugi, artinya suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan sama dengan jumlah biaya. Apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk biaya tetap saja.”
B. Menurut Drs. R. A Supriyono ( 2000 ; 332 )
“Break Even Point disebut dengan impas atau pulang pokok adalah suatu keadaan perusahaan dimana jumlah total penghasilan besarnya sama dengan jumlah total biaya.”
C. Menurut Henry Simamora ( 1999 ; 163 )
“Break Even Point adalah volume penjualan dimana pendapatan dan jumlah bebannya sama sekali tidak dapat terdapat laba / rugi bersih. Laba bersih deperoleh bilamana volume penjualan berada diatas titik impas.”
D. Menurut Bambang Riyanto ( 2001 ; 359 )
“Analisa Break Even Point adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan atau disebut cost-profit-volume (CPV)“
Jadi, dari beberapa pendapat mengenai Break Even Point, dapat disimpulkan bahwa Break Even Point adalah suatu titik dimana total biaya sama dengan pendapat, artinya tidak diperoleh laba atau rugi.
2.1.2. Asumsi Break Even Point
Asumsi – asumsi yang melandasi Break Even Point menurut Mulyadi (2001 ; 260 ), yaitu:
1. Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan Biaya tetap akan selalu konstan sedangkan biaya variabel berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
2. Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan dalam periode yang bersangkutan
3. Kapasitas produksi pabrik dianggap relatif konstan.penambahannya akan mempengaruhi biaya tetap dan hubungan CPV
4. Harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah
5. Efisiensi produksi dianggap tidak berubah
6. Perubahan jumlah sediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan
7. Komposisi produk yang akan dijual dianggap tidak berubah
8. Mungkin anggapan yang paling penting diantara anggapan-anggapan diatas adalah ” bahwa volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya ”.
2.1.3. Kegunaan Analisis Break Even Point
Analisis Break Even Point dapat digunakan untuk membantu menetapkan sasaran atau tujuan perusahaan. Adapun kegunaan yang lain adalah :
• Menentukan jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum ini berarti juga jumlah produksi minimum yang harus dibuat.
• Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh laba yang telah direncanakan. Berarti, tingkat produksi harus ditetapkan untuk memperoleh laba tersebut.
• Mengukur dan menjaga agar penjualan tidak kurang dari titik impas atau Break Even Point, tingkat produksi tidak dibawah titk impas.
• Menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan besarnya hasil penjualan pada tingkat produksi tertentu.
• Memudahkan perusahaan dalam pemberian data pada pihak luar perusahaan ( eksternal ) mengenai biaya, volume produksi, harga jual dan tingkat penjualan.
• Sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk memproduksi produk baru yang kiranya mampu menghasilkan laba besar.
Jadi, Analisa Break Even Point ini memberikan beberapa kegiatan secara langsung bagi perusahaan dalam operasinya, yaitu :
• Dasar dalam perencanaan pengembangan perusahaan
• Alat pengendalian budget
• Alat perencanaan laba
2.1.4. Biaya
Dalam penulisan ini biaya merupakan salah satu variabel penting yang diperhatikan terutama dalm perggunaannya sebagai masukan dalam alat analisis yang nantinya akan digunakan dalam pembahasan. Untuk itu relevan rasanya bila penulis mengemukakan pengertian mengenai biaya terutama biaya yang akan digunakan, mengingat ada beberapa pengertian mengenai biaya menurut beberapa golongan karena dalam akuntasi dikenal konsep ”different costs for different purpose”.
Konsep penggolongan biaya yang akan digunakan dalam pembahasan dalam penulisan ini adalah biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan yang merupakan hal yang penting dalam pengambilan keputusan, estimasi biaya dimasa yang akan datang dan evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan. Dalam hal ini biaya dibagi menjadi tiga : biaya tetap, biaya variabel dan biaya semivariabel. Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian, baik biaya tetap maupun biaya variabel harus dipecah lagi sebagai berikut :
• Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran perubahan volume kegiatan tertentu. Biaya tetap atau biaya kapasitas merupakan biaya untuk mempertahankan kemampuan perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu. Besarnya dipengaruhi oleh kondisi perusahaan jangka panjang, teknologi serta strategi menajemen.
- Committed Fixed Cost
Sebagian besar berupa biaya tetap yang timbul dari pemilikan pabrik, equipment, dan organisasi pokok. Perilakunya dapat diketahui dengan jelas dengan mengamati biaya – biaya yang tetap dikeluarkan jika seandainya perusahaan tidak melakukan kegiatan sama sekali dan akan kembali ke kegiatan normal.
Contoh : Biaya depresiasi, pajak PBB, sewa rumah, asuransi dll.
- Discretionary Fixed Cost
Merupakan biaya (a) yang timbul dari keputusan penyediaan anggaran secara berkala yang mencerminkan kebijakan manajemen puncak mengenai biaya yang dikeluarkan dan (b) yang tidak dapat menggambarkan hubungan yang optimum antara masukan dangan keluar.

• Biaya variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya bahan baku merupakan contoh biaya variabel yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.
Ada jenis biaya variabel yang perilakunya bertingkat (step like behavior) dan yang perilakunya berbah dengan perubahan volume kegiatan (proportionately variable costs).

Berdasarkan hubungannya dengan volume kegiatan perusahaan maka biaya dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
- Engineered Variabel Cost
Adalah biaya yang memiliki hubungan fisik tertentu dengan ukuran kegiatan tertentu. Hampir semua biaya variabel merupakan Engineered Cost. Engineered Variabel Cost merupakan biaya yang antara masukan dan keluarannya mempunyai hubungan yang erat dan nyata.
Contoh : biaya bahan baku.
- Discretionary Variabel Cost
Discretionary Variabel Cost berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan karena manajemen memutuskan kebijakan demikian, dengan kata lain merupakan biaya yang masukan dan keluarannya memiliki hubungan erat namun tidak nyata ( bersifat artificial).
Contoh : biaya iklan
• Biaya Semi Variabel
Adalah biaya yang memiliki unsur tetap dan variabel di dalamnya. Unsur biaya yang tetap merupakan jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa sedangkan unsur variabel merupakan bagian dari biaya semi variabel yang dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan.

2.1.5. Perencanaan Laba
Perencanaan merupakan proses dasar bagi manajemen dalam mengambil suatu keputusan atau tindakan, berarti perencanaan laba juga termasuk dasar bagi manajemen dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan terutama yang menyangkut tentang kegiatan apa yang dilakukan perusahaan dalam merealisasikan rencana tersebut.
Perencanaan laba termasuk kedalam rencana operasional (operational plan) berdasarkan jangka waktunya, karena rencana ini meliputi terhadap kegiatan-kegiatan operasional dan bersifat jangka pendek. Artinya laba yang direncanakan oleh suatu perusahaan, tiap periodenya dapat berubah-ubah.
Hubungan perencanaan laba dengan analisis Break Even Point adalah bahwa dengan menggunakan analisis Break Even Point dimana bila diketahui berapa volume penjualan yang harus diperoleh agar biaya bisa ditutupi, besarnya laba bisa dimasukan, sehingga dengan begitu besarnya volume penjualan yang baru bisa ditentukan agar laba bisa dicapai. Untuk perencanaan laba jangka pendek maka biaya dianggap tetap dan variabel, bila dihubungkan dengan analisis Break Even Point tentunya bisa digunakan, karena analisis Break Even Point itu sendiri menggunakan biaya tetap dan variabel, sedangkan untuk perencanaan laba jangka panjang maka semua elemen biaya dianggap variabel.
Perencanaan laba jangka pendek digunakan untuk menjabarkan program jangka panjang kedalam rencana jangka pendek (anggaran). Rencana jangka pendek kemudian diimplementasikan dan dipakai untuk mereview kemajuan yang dicapai dalam implementasi anggaran dan program. Penyusunan anggaran adalah suatu proses penyusunan rencana laba jangka pendek yang berisi langkah-langkah yang ditempuh oleh suatu perusahaan dalam melaksanakan sebagian dari program.
Dasar-dasar perencanaan laba antara lain:
a. Pengalaman yang lalu dari segi volume penjualan
b. Kebijaksanaan penetapan harga jual ke depan
c. Pesanan masa lalu yang tidak dimiliki
d. Penelitian pasar
e. Keadaan perekonomian umum
f. Keadaan perekonomian industri
g. Gerakan petunjuk keadaan perekonomian seperti GNP, ketenagakerjaan dan biaya
h. Perikalan dan produksi
i. Persaingan industri
j. Pangsa pasar.
2.2. Kajian Penelitian Sejenis
Penulisan mengenai penelitian break event point ini ternyata sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh beberapa mahasiswa. Kesamaan masalah yang diteliti ini setidaknya memberikan gambaran bahwa permasalahan ini memang menarik untuk diteliti meskipun objek yang diteliti berbeda.
Namun, pada setiap penulisan mengenai break event point yang penulis baca terdapat perbedaan-perbedaan dari segi teknik pemaparan dan penulisan serta isi penelitian tentunya, sebab setiap penelitian harus meneliti objek yang berbeda. Studi kepustakaan tentang penelitian sejenis ini sudah tentu memberikan manfaat bagi penulis terutama dalam memberikan gambaran serta layout penulisan ilmiah tentang penelitian break event point ini disajikan. Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan mengenai analisis break event point ini antara lain :
a. Penelitian oleh Mohamad Sanusi, NPM 21201293
Penelitian yang dilakukan olehnya berjudul Perencanaan Laba Pada Pabrik Tahu Kuning “Iwan”. Pada perumusan masalah penulis memiliki kesamaan yaitu merumuskan masalah tentang berapa volume penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba yang ditargetkan dan pada break even point. Sedangkan alat analisis yang dipakai adalah perhitungan break event point dengan teknik persamaan dan margin of safety. Berhubung produk yang dihasilkan oleh onjek penelitian hanyalah 1 macam maka analisis break event pointnya pun menggunakan perhitungan untuk 1 macam produk saja.
Perbedaan penelitian M. Sanusi selain objek penelitiannya dengan penulis disini adalah penggunaan alat analisis, penulis sekarang ini menambahkan analisis shut down point dengan maksud sebagai alat pertimbangan untuk melihat pada tahap mana perusahaan dapat terus melanjutkan atau menutup usahanya. Sedangkan untuk landasan teori, perbedaan terletak pada penyusunan subbab dan cetakan buku yang dipakai meskipun secara umum isinya hampir sama.
b. Penelitian oleh Tri Hastuti, NPM 11201935
Tri Hastuti mahasiswa F.E. jurusan manajemen ini pun pernah melakukan penelitian yang sejenis. Penelitiannya diberi judul Analisis Break Event Point Produk Kue Donat Pada CV Mar Donuts. Penelitian yang dilakukan oleh Tri Hastuti secara umum hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh M. Sanusi, perumusan masalahnya masih tetap mengedepankan tentang berapa jumlah unit penjualan pada titik impas. Pada landasan teorinya, didapat beberapa teori tentang break event point yang dikemukakan oleh ahli-ahli ekonomi yang tidak terdapat dalam penelitian penulis saat ini yaitu salah satunya pengertian mengenai break even point menurut Hans & Monen (1997:210), break event point adalah titik dimana pendapatan sama dengan total biaya yaitu titik dimana laba sama dengan nol.
Penelitian yang dilakukan oleh Tri Hastuti ini menggunakan alat analisis yang hampir sama seperti perhitungan break event dengan persamaan, namun menggunakan Sales Mix, ini dikarenakan objek yang diteliti menghasilkan dua macam produk. Penelitiannya pun belum menggunakan shut down point dalam melengkapi alat analisis yang digunakan.
c. Penelitian oleh Diane Ika D., NPM 10200489
Penelitian yang sejenis pun pernah dilakukan oleh Diane Ika D., mahasiswi jurusan manajemen, fakultas Ekonomi UG. Judul penelitannya adalah Analisis Break Event Point Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada Salon Anne. Penelitian yang dilakukan tahun 2003 ini, secara umum masih sama dengan penelitian sejenis lainnya, keberadaannya pun masih dalam point-point yang sama yaitu sekitar landasan teori tentang pengertian break event saja karena buku yang dipakai masih dalam cetakan lama meskipun isinya hampir sama, serta lay out penulisannya. Salah satu pengertian Break Even Point yang bisa diambil yaitu pengertian break event point menurut Sudarto S. (1996:145) “break event point merupakan keadaan yang sama besarnya/berimbang sehingga bagi suatu aktivitas perusahaan tidak akan mendapatkan keuntungan atas kerugian”.
Namun yang membedakan penulisan Diane Ika D. ini dengan penelitian sejenis lainnya termasuk penulisan yang dilakukan dengan penulis saat ini adalah produk dari objek yang diteliti berupa jasa. Objek yang diteliti adalah salon Anne yang menghasilkan jasa dengan bermacam-macam pelayanan yang tidak diproduksi secara tetap setiap harinya atau bulannya.
Alat analisis yang dipakai pun hampir sama yaitu perhitungan analisis break event point dengan persamaan dan Margin Of Safety tanpa menggunakan Shut Down Point.
2.3. Alat Analisis
Alat analisis yang digunakan dalam pembahasan nanti adalah perhitungan break event point yang disertai perencanaan laba, Margin Of Safety dan Shut Down Point.
2.3.1. Analisis Break Event Point
Analisis break event point ini merupakan variabel penting yang menjadi alat analisis dalam penelitian. Dalam variabel perhitungannya secara umum bisa menggunakan dua cara yaitu dengan teknik persamaan dan grafik. Namun bila menggunakan buku Edisi 2 karangan Bambang Riyanto (2001:359), ada 3 cara pendekatan perhitungan analisis break event point untuk perusahaan dalam suatu periode yaitu:
1. Pendekatan Tabelaris
Pendekatan tabelaris dilakukan dengan cara menghitung jumlah penghasilan dan biaya pada berbagai tingkat penjualan/produksi. Dengan pendekatan ini berarti perusahaan dalam meramalkan pada tingkat atau volume penjualan berapa perusahaan pada titik break event atau laba sama dengan nol dilakukan dengan coba-coba artinya peramalan dilakukan satu persatu sampai ditemukan selisih antara kolom jumlah penghasilan dan biaya sama dengan nol.
2. Pendekatan Grafis
Pendekatan grafis ini dilakukan dengan cara menggunakan kurva penghasilan, biaya tetap dan total biaya pada berbagai tingkat penjualan. Break Event Point biasanya digambarkan dalam suatu grafik yang disebut gambar break event (break even chart), pada gambar tersebut akan didapat dan diketahui sekaligus jumlah rupiah dari hasil penjualan, unit yang dijual, biaya variabel, biaya tetap serta marginal laba atau kerugian pada tingkat penjualan tertentu dengan melihat titik Break Event Pointnya.
3. Pendekatan Aritmatik
Pendekatan Aritmatik ini dapat dilakukan dengan rumus-rumus aljabar dan dengan trial & error. Bila menggunakan rumus-rumus aljabar, maka titik Break Event Point baik dalam unit maupun satuan uang (rupiah) dengan cepat bisa diketahui.

Dengan begitu perhitungan dilakukan secara berulang-ulang sampai selisihnya sama dengan nol. Cara ini sepertinya kurang efisien karena memerlukan waktu yang lama dibandingkan dengan menggunakan rumus aljabar (persamaan).

2.3.2. Margin of Safety
Margin of Safety (MoS) menjelaskan bahwa hubungan antara penjualan pada tingkat Break Event Point merupakan batas keamanan atau Margin of Safety yang besar adalah lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang MoS nya rendah karena MoS menunjukkan indikasi bagi manajemen tentang berapakah penurunan yang dapat ditolerir sehingga perusahaan tidak menderita rugi tapi juga belum memperoleh laba.
Margin of Safety dapat dihubungkan langsung dengan keuntungan perusahaan dengan rumus :

2.3.3. Shut Down Point
Titik penutupan usaha (shut down point) merupakan suatu titik yang menentukan perusahaan harus menutup usahanya atau berhenti berproduksi bila pendapatan tidak dapat menutupi biaya tunainya (cost > revenue). Untuk dapat menghitungnya bisa dilakukan dengan mencari titik impas atau dengan melihat berapa besarnya total biaya dimana pendapatan penjualan dibawah Total biaya maka perusahaan secara ekonomis tidak pantas untuk dilanjutkan karena akan menyebabkan perusahaan tidak mampu membayar biaya tunainya.
Keputusan untuk menutup usaha dilakukan dengan mempertimbangkan :
1. Pendapatan penjualan dengan biaya tunai
Biaya tunai (cash cost atau out of pocket costs) adalah biaya-biaya yang memerlukan pembayaran segera dengan uang kas. Sedangkan dalam PSAK adalah biaya yang memerlukan pengeluaran dengan uang kas sekarang atau dalam jangka pendek bagi pengambilan keputusan.
Contoh : biaya tetap dan variabel seperti biaya pemeliharaan, gaji pegawai pabrik dan lain-lain.
2. Biaya terbenam (sunk cost)
Pengeluaran yang dilakukan di masa lalu yang manfaatnya masih dinikmati sekarang.
Contoh : biaya depresiasi, amortisasi dan deplesi

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah sebuah konveksi dalam usaha home industry yang bergerak dalam bidang pembuatan pakaian bayi (garmen) yaitu Konveksi DUCK DUCK yang beralamat di Gg. Abesin no. 30 Bogor.
3.1.2. Sejarah Singkat
Konveksi DUCK DUCK merupakan usaha perseorangan yang bergerak dibidang konveksi pakaian yang menghasilkan produk berupa pakaian bayi. Perusahaan yang mempekerjakan 12 orang ini dimulai dari usaha kecil rumahan yang dilakukan oleh ibu Suhita Setiady. Pada awalnya sekitar tahun 1960, Ibu Suhita mulai menjahit dan menerima pesanan jahitan dirumahnya dikawasan Bogor, mesin yang digunakannya pun hanyalah sebuah mesin jahit yang pada waktu itu masih seharga Rp.150.000,-. Lama kelamaan ibu Suhita mencoba untuk memproduksi pakaian dewasa yang dijualnya di pasar-pasar, namun pada kenyataannya usahanya ini malah merugi karena toko-toko atau orang-orang yang mengambil jahitan hasil produksinya tidak membayar lunas produk tersebut sehingga ibu Suhita berhenti memproduksi.
Selanjutnya anak-anak ibu Suhita yang bernama Damayanti dan Wulandari menganjurkan ibunya agar mulai memproduksi pakaian lagi, namun kali ini yang diproduksi adalah pakaian bayi. Maka sejak tahun 1995 ibu Suhita mulai merintis usaha konveksinya dengan dua mesin jahit dan satu mesin obras dibantu dengan kedua putrinya. Usaha inipun akhirnya berkembang dan banyak mengisi produk-produknya di toko-toko di beberapa supermarket dan mal-mal di Jakarta.
Akhirnya usaha konveksi ini kini diserahkan ibu Suhita kepada kedua orang putrinya dan ibu Suhita hanya mengawasi proses produksi dan mendesain pola dibantu oleh suaminya yaitu bapak Tunario Trenggono yang menangani 19 bagian administrasi sehari-hari. Sedangkan manajemen konveksi DUCK DUCK ini sekarang dikelola oleh Damayanti dan Wulandari yang tinggal di Jakarta.
3.1.2. Struktur Organisasi
Struktur organisasi perusahaan bila digambarkan sangatlah sederhana, berhubung perusahaan ini merupakan perusahaan perseorangan yang berskala kecil yang dimiliki oleh sebuah keluarga.
Struktur Organisasi dapat digambarkan sbb:
I.1. Latar Belakang
Pada saat ini, banyak perusahaan-perusahaan baik besar maupun kecil, yang berskala nasional maupun internasional bermunculan. Tentunya hal tersebut merupakan pertanda positif yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian nasional. Namun pada kenyataannya tidak bisa dipungkiri, beberapa perusahaan terutama perusahaan-perusahaan kecil gulung tikar yang salah satu penyebabnya dikarenakan biaya-biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
Secara umum perusahaan memiliki tujuan untuk memperoleh laba baik jangka panjang maupun jangka pendek. Dalam mencapai tujuan tersebut perusahaan mempunyai alat yaitu manajemen. Berhasil atau tidaknya perusahaan tergantung pada kemampuan manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsinya serta dalam melihat kemungkinan dimasa yang akan datang. Untuk itu manajemen dalam kegiatannya harus dapat merencanakan tujuan dan kegiatan dalam mencapai tujuannya tersebut. Hal ini tentunya selaras dengan fungsi pokok manajemen yaitu planning. Perencanaan ini penting bagi masa depan perusahaan baik untuk memperoleh protective benefit maupun positive benefit.
Kemampuan untuk mencapai laba yang optimal dapat ditentukan oleh manajemen yang baik terutama dalam perencanaan laba. Perencanaan laba yang baik akan mempengaruhi keberhasilan perusahan dalam memperoleh laba yang optimal.
Dalam perencanaan laba ini, harus diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi laba yaitu biaya, harga jual dan volume penjualan. Biaya memiliki implikasi bagi penentuan harga jual untuk mencapai laba yang dikehendaki. Kemudian harga jual ini mempengaruhi volume penjualan dan selanjutnya volume penjualan ini akan mempengaruhi volume produksi seperti siklus, volume produksi ini pun nantinya akan mempengaruhi biaya produksi dan seterusnya.
Untuk itu dalam penyusunan perencanaan laba, manajemen memerlukan berbagai informasi untuk menilai berbagai kemungkinan dan alternatif-alternatif keputusan dengan memperhatikan pengaruh dari keputusan yang akan diambil tersebut. Salah satu alat yang dapat digunakan manajemen dalam hal ini adalah analisis Break Even Point.
Tertarik dengan masalah diatas dan terdorong untuk mengetahui lebih jelas tentang analisis Break Even Point dalam penyusunan perencanaan laba perusahaan, maka penulis akan mencoba melakukan penelitian terhadap salah satu konveksi dalam usaha home industry sebagai objek penelitiannya. Dalam penulisan ini penulis mengangkat judul “ ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA KONVEKSI DUCK DUCK ”.
I.2. Rumusan dan Batasan Masalah
Dari permasalahan yang akan diangkat, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perhitungan analisis Break Even Point pada konveksi Duck Duck?
2. Informasi apa yang dapat diperoleh dari analisis Break Even Point ini bagi konveksi Duck Duck?
Sedangkan penulis akan membatasi masalah dengan hanya menggunakan data produksi dan penjualan serta biaya-biaya yang terjadi dalam konveksi selama tahun 2004. Produk yang akan diteliti adalah pakaian bayi dan analisis yang akan digunakan adalah analisis Break Even Point, Margin of Safety dan Shut Down Point.
I.3. Tujuan Penelitian
Dengan mengacu terhadap rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perhitungan analisis Break Even Point dan titik penjualan konveksi pada saat kondisi Break Even Point.
2. Untuk mengetahui volume penjualan yang harus dicapai oleh konveksi tersebut untuk mencapai laba yang ditargetkan.
I.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yang hendak diperoleh yaitu diantaranya :
1. Manfaat yang bagi penulis
penelitian ini memberikan manfaat bagi penulis yaitu menambah pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana berpikir ilmiah. Selain itu penelitian ini juga memberikan pengetahuan bagi penulis tentang bagaimana menerapkan teori mengenai Break Even Point ini kedalam praktek di lapangan dalam hal ini adalah di sebuah usaha konveksi yang memproduksi pakaian bayi.
2. Manfaat bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi bagi konveksi dalam hal ini mengenai volume penjualan yang harus dipertahankan oleh konveksi agar tidak menderita rugi dan berada pada titik impas serta volume penjualan untuk memperoleh laba yang direncanakan dengan perhitungannya.
3. Manfaat akademik
Penelitian ini dapat digunakan sebagai alat pembanding dan pembantu bagi penelitian sejenis dimasa yang akan datang atau juga dapat diteliti lebih lanjut. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi –informasi bagi keperluan studi lain dalam dunia akademis terutama bagi praktek dan pemanfaatan analisis Break Even Point dalam proses produksi nyata.
I.5. Metode Penelitian
Beberapa bagian penting yang akan digunakan dalam mendukung penelitian ilmiah ini antara lain :
I.5.1. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penulisan ini adalah sebuah konveksi yang tergolong dalam usaha home industry yang beralamat di Gg. Abesin no. 30 Bogor.
I.5.2. Data
Data yang penulis pergunakan disini adalah primer kuantitatif yaitu berupa data keuangan konveksi yang berisi biaya-biaya baik variabel maupun tetap serta penjualannya. Data yang kami pergunakan adalah data produksi, penjualan dan biaya tahun 2004.
I.5.3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan ini, untuk mendapatkan data dan informasi maka penulis menggunakan metode :
a. Metode Observasi
Disini penulis mendatangi konveksi tersebut untuk secara langsung mendapatkan data yang dibutuhkan, pengamatan langsung didalam konveksi ini juga termasuk dalam mengamati proses produksi dan bahan baku yang digunakan untuk memisahkan antara biaya tetap dan variabel.
b. Metode Wawancara
Dalam pengumpulan informasi, penulis mewawancarai nara sumber yang berkompeten dalam memberikan informasi dan data-data mengenai biaya, produksi dan penjualan yang terjadi dalam konveksi selama tahun 2004.
Dalam wawancara ini, penulis memberikan pertanyaan mengenai sejarah singkat berdirinya konveksi, kepengurusan konveksi dan kegiatan operasional konveksi serta data-data/informasi lain yang diperlukan.
I.5.4. Alat analisis yang digunakan
Untuk menganalisis permasalahan ini, maka penulis menggunakan alat analisis yang berhubungan dengan analisis Break Even Point yaitu perhitungan baik dengan pendekatan matematik ( mathematic approach ) maupun dengan
grafik ( grafik aproach ) yang juga disertai dengan perhitungan perencanaan laba yang ditargetkan. Sedangkan untuk alat analisis pendukung dipakai Margin Of Safety dan Shut Down Point.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Kerangka Teori
2.1.1. Pengertian Break Even
Kata Break Even Point berasal dari bahasa inggris yang bila diartikan kedalam bahasa Indonesia berarti tidak rugi, tidak laba, kembali pokok, pas atau yang sering dipakai yaitu impas.
Ada beberapa pengertian mengenai Break Even Point yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu antara lain :
A. Menurut Mulyadi ( 2001 ; 232 )
“Break Even Point adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak mengalami rugi, artinya suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan sama dengan jumlah biaya. Apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk biaya tetap saja.”
B. Menurut Drs. R. A Supriyono ( 2000 ; 332 )
“Break Even Point disebut dengan impas atau pulang pokok adalah suatu keadaan perusahaan dimana jumlah total penghasilan besarnya sama dengan jumlah total biaya.”
C. Menurut Henry Simamora ( 1999 ; 163 )
“Break Even Point adalah volume penjualan dimana pendapatan dan jumlah bebannya sama sekali tidak dapat terdapat laba / rugi bersih. Laba bersih deperoleh bilamana volume penjualan berada diatas titik impas.”
D. Menurut Bambang Riyanto ( 2001 ; 359 )
“Analisa Break Even Point adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan atau disebut cost-profit-volume (CPV)“
Jadi, dari beberapa pendapat mengenai Break Even Point, dapat disimpulkan bahwa Break Even Point adalah suatu titik dimana total biaya sama dengan pendapat, artinya tidak diperoleh laba atau rugi.
2.1.2. Asumsi Break Even Point
Asumsi – asumsi yang melandasi Break Even Point menurut Mulyadi (2001 ; 260 ), yaitu:
1. Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan Biaya tetap akan selalu konstan sedangkan biaya variabel berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
2. Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan dalam periode yang bersangkutan
3. Kapasitas produksi pabrik dianggap relatif konstan.penambahannya akan mempengaruhi biaya tetap dan hubungan CPV
4. Harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah
5. Efisiensi produksi dianggap tidak berubah
6. Perubahan jumlah sediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan
7. Komposisi produk yang akan dijual dianggap tidak berubah
8. Mungkin anggapan yang paling penting diantara anggapan-anggapan diatas adalah ” bahwa volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya ”.
2.1.3. Kegunaan Analisis Break Even Point
Analisis Break Even Point dapat digunakan untuk membantu menetapkan sasaran atau tujuan perusahaan. Adapun kegunaan yang lain adalah :
• Menentukan jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum ini berarti juga jumlah produksi minimum yang harus dibuat.
• Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh laba yang telah direncanakan. Berarti, tingkat produksi harus ditetapkan untuk memperoleh laba tersebut.
• Mengukur dan menjaga agar penjualan tidak kurang dari titik impas atau Break Even Point, tingkat produksi tidak dibawah titk impas.
• Menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan besarnya hasil penjualan pada tingkat produksi tertentu.
• Memudahkan perusahaan dalam pemberian data pada pihak luar perusahaan ( eksternal ) mengenai biaya, volume produksi, harga jual dan tingkat penjualan.
• Sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk memproduksi produk baru yang kiranya mampu menghasilkan laba besar.
Jadi, Analisa Break Even Point ini memberikan beberapa kegiatan secara langsung bagi perusahaan dalam operasinya, yaitu :
• Dasar dalam perencanaan pengembangan perusahaan
• Alat pengendalian budget
• Alat perencanaan laba
2.1.4. Biaya
Dalam penulisan ini biaya merupakan salah satu variabel penting yang diperhatikan terutama dalm perggunaannya sebagai masukan dalam alat analisis yang nantinya akan digunakan dalam pembahasan. Untuk itu relevan rasanya bila penulis mengemukakan pengertian mengenai biaya terutama biaya yang akan digunakan, mengingat ada beberapa pengertian mengenai biaya menurut beberapa golongan karena dalam akuntasi dikenal konsep ”different costs for different purpose”.
Konsep penggolongan biaya yang akan digunakan dalam pembahasan dalam penulisan ini adalah biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan yang merupakan hal yang penting dalam pengambilan keputusan, estimasi biaya dimasa yang akan datang dan evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan. Dalam hal ini biaya dibagi menjadi tiga : biaya tetap, biaya variabel dan biaya semivariabel. Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian, baik biaya tetap maupun biaya variabel harus dipecah lagi sebagai berikut :
• Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran perubahan volume kegiatan tertentu. Biaya tetap atau biaya kapasitas merupakan biaya untuk mempertahankan kemampuan perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu. Besarnya dipengaruhi oleh kondisi perusahaan jangka panjang, teknologi serta strategi menajemen.
- Committed Fixed Cost
Sebagian besar berupa biaya tetap yang timbul dari pemilikan pabrik, equipment, dan organisasi pokok. Perilakunya dapat diketahui dengan jelas dengan mengamati biaya – biaya yang tetap dikeluarkan jika seandainya perusahaan tidak melakukan kegiatan sama sekali dan akan kembali ke kegiatan normal.
Contoh : Biaya depresiasi, pajak PBB, sewa rumah, asuransi dll.
- Discretionary Fixed Cost
Merupakan biaya (a) yang timbul dari keputusan penyediaan anggaran secara berkala yang mencerminkan kebijakan manajemen puncak mengenai biaya yang dikeluarkan dan (b) yang tidak dapat menggambarkan hubungan yang optimum antara masukan dangan keluar.

• Biaya variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya bahan baku merupakan contoh biaya variabel yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.
Ada jenis biaya variabel yang perilakunya bertingkat (step like behavior) dan yang perilakunya berbah dengan perubahan volume kegiatan (proportionately variable costs).

Berdasarkan hubungannya dengan volume kegiatan perusahaan maka biaya dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
- Engineered Variabel Cost
Adalah biaya yang memiliki hubungan fisik tertentu dengan ukuran kegiatan tertentu. Hampir semua biaya variabel merupakan Engineered Cost. Engineered Variabel Cost merupakan biaya yang antara masukan dan keluarannya mempunyai hubungan yang erat dan nyata.
Contoh : biaya bahan baku.
- Discretionary Variabel Cost
Discretionary Variabel Cost berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan karena manajemen memutuskan kebijakan demikian, dengan kata lain merupakan biaya yang masukan dan keluarannya memiliki hubungan erat namun tidak nyata ( bersifat artificial).
Contoh : biaya iklan
• Biaya Semi Variabel
Adalah biaya yang memiliki unsur tetap dan variabel di dalamnya. Unsur biaya yang tetap merupakan jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa sedangkan unsur variabel merupakan bagian dari biaya semi variabel yang dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan.

2.1.5. Perencanaan Laba
Perencanaan merupakan proses dasar bagi manajemen dalam mengambil suatu keputusan atau tindakan, berarti perencanaan laba juga termasuk dasar bagi manajemen dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan terutama yang menyangkut tentang kegiatan apa yang dilakukan perusahaan dalam merealisasikan rencana tersebut.
Perencanaan laba termasuk kedalam rencana operasional (operational plan) berdasarkan jangka waktunya, karena rencana ini meliputi terhadap kegiatan-kegiatan operasional dan bersifat jangka pendek. Artinya laba yang direncanakan oleh suatu perusahaan, tiap periodenya dapat berubah-ubah.
Hubungan perencanaan laba dengan analisis Break Even Point adalah bahwa dengan menggunakan analisis Break Even Point dimana bila diketahui berapa volume penjualan yang harus diperoleh agar biaya bisa ditutupi, besarnya laba bisa dimasukan, sehingga dengan begitu besarnya volume penjualan yang baru bisa ditentukan agar laba bisa dicapai. Untuk perencanaan laba jangka pendek maka biaya dianggap tetap dan variabel, bila dihubungkan dengan analisis Break Even Point tentunya bisa digunakan, karena analisis Break Even Point itu sendiri menggunakan biaya tetap dan variabel, sedangkan untuk perencanaan laba jangka panjang maka semua elemen biaya dianggap variabel.
Perencanaan laba jangka pendek digunakan untuk menjabarkan program jangka panjang kedalam rencana jangka pendek (anggaran). Rencana jangka pendek kemudian diimplementasikan dan dipakai untuk mereview kemajuan yang dicapai dalam implementasi anggaran dan program. Penyusunan anggaran adalah suatu proses penyusunan rencana laba jangka pendek yang berisi langkah-langkah yang ditempuh oleh suatu perusahaan dalam melaksanakan sebagian dari program.
Dasar-dasar perencanaan laba antara lain:
a. Pengalaman yang lalu dari segi volume penjualan
b. Kebijaksanaan penetapan harga jual ke depan
c. Pesanan masa lalu yang tidak dimiliki
d. Penelitian pasar
e. Keadaan perekonomian umum
f. Keadaan perekonomian industri
g. Gerakan petunjuk keadaan perekonomian seperti GNP, ketenagakerjaan dan biaya
h. Perikalan dan produksi
i. Persaingan industri
j. Pangsa pasar.
2.2. Kajian Penelitian Sejenis
Penulisan mengenai penelitian break event point ini ternyata sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh beberapa mahasiswa. Kesamaan masalah yang diteliti ini setidaknya memberikan gambaran bahwa permasalahan ini memang menarik untuk diteliti meskipun objek yang diteliti berbeda.
Namun, pada setiap penulisan mengenai break event point yang penulis baca terdapat perbedaan-perbedaan dari segi teknik pemaparan dan penulisan serta isi penelitian tentunya, sebab setiap penelitian harus meneliti objek yang berbeda. Studi kepustakaan tentang penelitian sejenis ini sudah tentu memberikan manfaat bagi penulis terutama dalam memberikan gambaran serta layout penulisan ilmiah tentang penelitian break event point ini disajikan. Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan mengenai analisis break event point ini antara lain :
a. Penelitian oleh Mohamad Sanusi, NPM 21201293
Penelitian yang dilakukan olehnya berjudul Perencanaan Laba Pada Pabrik Tahu Kuning “Iwan”. Pada perumusan masalah penulis memiliki kesamaan yaitu merumuskan masalah tentang berapa volume penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba yang ditargetkan dan pada break even point. Sedangkan alat analisis yang dipakai adalah perhitungan break event point dengan teknik persamaan dan margin of safety. Berhubung produk yang dihasilkan oleh onjek penelitian hanyalah 1 macam maka analisis break event pointnya pun menggunakan perhitungan untuk 1 macam produk saja.
Perbedaan penelitian M. Sanusi selain objek penelitiannya dengan penulis disini adalah penggunaan alat analisis, penulis sekarang ini menambahkan analisis shut down point dengan maksud sebagai alat pertimbangan untuk melihat pada tahap mana perusahaan dapat terus melanjutkan atau menutup usahanya. Sedangkan untuk landasan teori, perbedaan terletak pada penyusunan subbab dan cetakan buku yang dipakai meskipun secara umum isinya hampir sama.
b. Penelitian oleh Tri Hastuti, NPM 11201935
Tri Hastuti mahasiswa F.E. jurusan manajemen ini pun pernah melakukan penelitian yang sejenis. Penelitiannya diberi judul Analisis Break Event Point Produk Kue Donat Pada CV Mar Donuts. Penelitian yang dilakukan oleh Tri Hastuti secara umum hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh M. Sanusi, perumusan masalahnya masih tetap mengedepankan tentang berapa jumlah unit penjualan pada titik impas. Pada landasan teorinya, didapat beberapa teori tentang break event point yang dikemukakan oleh ahli-ahli ekonomi yang tidak terdapat dalam penelitian penulis saat ini yaitu salah satunya pengertian mengenai break even point menurut Hans & Monen (1997:210), break event point adalah titik dimana pendapatan sama dengan total biaya yaitu titik dimana laba sama dengan nol.
Penelitian yang dilakukan oleh Tri Hastuti ini menggunakan alat analisis yang hampir sama seperti perhitungan break event dengan persamaan, namun menggunakan Sales Mix, ini dikarenakan objek yang diteliti menghasilkan dua macam produk. Penelitiannya pun belum menggunakan shut down point dalam melengkapi alat analisis yang digunakan.
c. Penelitian oleh Diane Ika D., NPM 10200489
Penelitian yang sejenis pun pernah dilakukan oleh Diane Ika D., mahasiswi jurusan manajemen, fakultas Ekonomi UG. Judul penelitannya adalah Analisis Break Event Point Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada Salon Anne. Penelitian yang dilakukan tahun 2003 ini, secara umum masih sama dengan penelitian sejenis lainnya, keberadaannya pun masih dalam point-point yang sama yaitu sekitar landasan teori tentang pengertian break event saja karena buku yang dipakai masih dalam cetakan lama meskipun isinya hampir sama, serta lay out penulisannya. Salah satu pengertian Break Even Point yang bisa diambil yaitu pengertian break event point menurut Sudarto S. (1996:145) “break event point merupakan keadaan yang sama besarnya/berimbang sehingga bagi suatu aktivitas perusahaan tidak akan mendapatkan keuntungan atas kerugian”.
Namun yang membedakan penulisan Diane Ika D. ini dengan penelitian sejenis lainnya termasuk penulisan yang dilakukan dengan penulis saat ini adalah produk dari objek yang diteliti berupa jasa. Objek yang diteliti adalah salon Anne yang menghasilkan jasa dengan bermacam-macam pelayanan yang tidak diproduksi secara tetap setiap harinya atau bulannya.
Alat analisis yang dipakai pun hampir sama yaitu perhitungan analisis break event point dengan persamaan dan Margin Of Safety tanpa menggunakan Shut Down Point.
2.3. Alat Analisis
Alat analisis yang digunakan dalam pembahasan nanti adalah perhitungan break event point yang disertai perencanaan laba, Margin Of Safety dan Shut Down Point.
2.3.1. Analisis Break Event Point
Analisis break event point ini merupakan variabel penting yang menjadi alat analisis dalam penelitian. Dalam variabel perhitungannya secara umum bisa menggunakan dua cara yaitu dengan teknik persamaan dan grafik. Namun bila menggunakan buku Edisi 2 karangan Bambang Riyanto (2001:359), ada 3 cara pendekatan perhitungan analisis break event point untuk perusahaan dalam suatu periode yaitu:
1. Pendekatan Tabelaris
Pendekatan tabelaris dilakukan dengan cara menghitung jumlah penghasilan dan biaya pada berbagai tingkat penjualan/produksi. Dengan pendekatan ini berarti perusahaan dalam meramalkan pada tingkat atau volume penjualan berapa perusahaan pada titik break event atau laba sama dengan nol dilakukan dengan coba-coba artinya peramalan dilakukan satu persatu sampai ditemukan selisih antara kolom jumlah penghasilan dan biaya sama dengan nol.
2. Pendekatan Grafis
Pendekatan grafis ini dilakukan dengan cara menggunakan kurva penghasilan, biaya tetap dan total biaya pada berbagai tingkat penjualan. Break Event Point biasanya digambarkan dalam suatu grafik yang disebut gambar break event (break even chart), pada gambar tersebut akan didapat dan diketahui sekaligus jumlah rupiah dari hasil penjualan, unit yang dijual, biaya variabel, biaya tetap serta marginal laba atau kerugian pada tingkat penjualan tertentu dengan melihat titik Break Event Pointnya.
3. Pendekatan Aritmatik
Pendekatan Aritmatik ini dapat dilakukan dengan rumus-rumus aljabar dan dengan trial & error. Bila menggunakan rumus-rumus aljabar, maka titik Break Event Point baik dalam unit maupun satuan uang (rupiah) dengan cepat bisa diketahui.

Dengan begitu perhitungan dilakukan secara berulang-ulang sampai selisihnya sama dengan nol. Cara ini sepertinya kurang efisien karena memerlukan waktu yang lama dibandingkan dengan menggunakan rumus aljabar (persamaan).

2.3.2. Margin of Safety
Margin of Safety (MoS) menjelaskan bahwa hubungan antara penjualan pada tingkat Break Event Point merupakan batas keamanan atau Margin of Safety yang besar adalah lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang MoS nya rendah karena MoS menunjukkan indikasi bagi manajemen tentang berapakah penurunan yang dapat ditolerir sehingga perusahaan tidak menderita rugi tapi juga belum memperoleh laba.
Margin of Safety dapat dihubungkan langsung dengan keuntungan perusahaan dengan rumus :

2.3.3. Shut Down Point
Titik penutupan usaha (shut down point) merupakan suatu titik yang menentukan perusahaan harus menutup usahanya atau berhenti berproduksi bila pendapatan tidak dapat menutupi biaya tunainya (cost > revenue). Untuk dapat menghitungnya bisa dilakukan dengan mencari titik impas atau dengan melihat berapa besarnya total biaya dimana pendapatan penjualan dibawah Total biaya maka perusahaan secara ekonomis tidak pantas untuk dilanjutkan karena akan menyebabkan perusahaan tidak mampu membayar biaya tunainya.
Keputusan untuk menutup usaha dilakukan dengan mempertimbangkan :
1. Pendapatan penjualan dengan biaya tunai
Biaya tunai (cash cost atau out of pocket costs) adalah biaya-biaya yang memerlukan pembayaran segera dengan uang kas. Sedangkan dalam PSAK adalah biaya yang memerlukan pengeluaran dengan uang kas sekarang atau dalam jangka pendek bagi pengambilan keputusan.
Contoh : biaya tetap dan variabel seperti biaya pemeliharaan, gaji pegawai pabrik dan lain-lain.
2. Biaya terbenam (sunk cost)
Pengeluaran yang dilakukan di masa lalu yang manfaatnya masih dinikmati sekarang.
Contoh : biaya depresiasi, amortisasi dan deplesi

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah sebuah konveksi dalam usaha home industry yang bergerak dalam bidang pembuatan pakaian bayi (garmen) yaitu Konveksi DUCK DUCK yang beralamat di Gg. Abesin no. 30 Bogor.
3.1.2. Sejarah Singkat
Konveksi DUCK DUCK merupakan usaha perseorangan yang bergerak dibidang konveksi pakaian yang menghasilkan produk berupa pakaian bayi. Perusahaan yang mempekerjakan 12 orang ini dimulai dari usaha kecil rumahan yang dilakukan oleh ibu Suhita Setiady. Pada awalnya sekitar tahun 1960, Ibu Suhita mulai menjahit dan menerima pesanan jahitan dirumahnya dikawasan Bogor, mesin yang digunakannya pun hanyalah sebuah mesin jahit yang pada waktu itu masih seharga Rp.150.000,-. Lama kelamaan ibu Suhita mencoba untuk memproduksi pakaian dewasa yang dijualnya di pasar-pasar, namun pada kenyataannya usahanya ini malah merugi karena toko-toko atau orang-orang yang mengambil jahitan hasil produksinya tidak membayar lunas produk tersebut sehingga ibu Suhita berhenti memproduksi.
Selanjutnya anak-anak ibu Suhita yang bernama Damayanti dan Wulandari menganjurkan ibunya agar mulai memproduksi pakaian lagi, namun kali ini yang diproduksi adalah pakaian bayi. Maka sejak tahun 1995 ibu Suhita mulai merintis usaha konveksinya dengan dua mesin jahit dan satu mesin obras dibantu dengan kedua putrinya. Usaha inipun akhirnya berkembang dan banyak mengisi produk-produknya di toko-toko di beberapa supermarket dan mal-mal di Jakarta.
Akhirnya usaha konveksi ini kini diserahkan ibu Suhita kepada kedua orang putrinya dan ibu Suhita hanya mengawasi proses produksi dan mendesain pola dibantu oleh suaminya yaitu bapak Tunario Trenggono yang menangani 19 bagian administrasi sehari-hari. Sedangkan manajemen konveksi DUCK DUCK ini sekarang dikelola oleh Damayanti dan Wulandari yang tinggal di Jakarta.
3.1.2. Struktur Organisasi
Struktur organisasi perusahaan bila digambarkan sangatlah sederhana, berhubung perusahaan ini merupakan perusahaan perseorangan yang berskala kecil yang dimiliki oleh sebuah keluarga.
Struktur Organisasi dapat digambarkan sbb:

Karena termasuk usaha keluarga yang masih berskala kecil maka pembagian tugas pun tidak terstruktur dengan jelas, namun adapun tugas-tugas untuk masing-masing bagian dapat kami simpulkan sbb :
�� Pemilik/Pengelola
Pemilik/Pengelola disini adalah Damayanti dan Wulandari. Adapun tugas-tugas yang dilakukan oleh mereka antara lain :
�� Membeli dan memasok persediaan bahan baku
�� Memasarkan produk-produk ke toko-toko langganan
�� Membuat laporan keuangan
�� Mengecek kegiatan produksi seminggu sekali
�� Bagian Produksi
Yang dimaksud bagian produksi disini adalah ibu Suhita. Adapun tugas-tugas yang dilakukannya antara lain :
�� Mengawasi proses produksi
�� Mendesain Pola
�� Mengatur tenaga kerja
�� Bagian Administrasi
Bagian administrasi disini adalah bapak Tunario Trenggono. Adapun tugasnya antara lain :
�� Membayar tagihan-tagihan
�� Mengatur administrasi sehari-hari
�� Karyawan
Tenaga karyawan dikelompokkan kedalam pengerjaan tugas-tugas tertentu. Jumlah karyawan ada 12 orang, adapun pengelompokan kerjanya sbb :
�� Bagian menggunting pola = 2 orang
�� Bagian menjahit dan obras = 5 orang
�� Bagian finishing = 5 orang
3.2. Data yang Digunakan
Bahan baku informasi atau data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah data-data keuangan berupa biaya-biaya yang dipisahkan kedalam biaya variabel maupun tetap beserta dengan penjualan yang terealisasi pada periode yang akan diteliti yaitu tahun 2004. Data yang digunakan itu sekurang-kurangnya memenuhi syarat data yang baik yaitu ada hubungannya dengan persoalan/permasalahan yang akan diteliti atau dipecahkan.
Data tersebut nantinya akan diolah dan dianalisis lebih lanjut menurut metode yang dipilih dalam penelitian ini.
Menurut cara memperolehnya, data yang digunakan merupakan data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah dari tangan pertama dalam hal ini adalah konveksi DUCK DUCK itu sendiri. Sedangkan menurut sifatnya data merupakan data kuantitatif yang berbentuk angka.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data erat sekali hubungannya dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan, pengumpulan data hendaknya memperhatikan aspek validitas.
Berhubungan dengan data yang digunakan yaitu data primer, maka dalam pengumpulannya penulis memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya yang tinggi yaitu pada metode observasi dan wawancara, meski demikian keuntungan penggunaan data primer ialah terpercaya.
Metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis antara lain :
a. Metode Observasi
Melalui metode ini, penulis mendatangi konveksi secara langsung untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Pengamatan yang dilakukan dimaksudkan agar penulis bisa lebih jelas memisahkan antara biaya tetap dan biaya variabel yang digunakan dalam proses produksi.
Observasi dilakukan pada tanggal 9 April 2005 sekitar jan 11.00-14.00 WIB. Penulis hanya sekali mendatang konveksi karena data yang diperoleh pada kunjungan pertama sudah cukup lengkap.
b. Metode Wawancara
Dalam pengumpulan informasi terutama yang berhubungan dengan profile objek penelitian dalam hal ini adalah konveksi DUCK DUCK, penulis memerlukan informasi yang diperoleh dari pemilik perusahaan dengan memberikan beberapa pertanyaan.
Selain itu, data keuangan yang diperlukan oleh penulis bisa didapatkan dengan menggunakan metode ini karena data tersebut dipegang oleh pemilik perusahaan. Namun karena pada saat penulis datang ke konveksi, pemilik konveksi sedang tidak ada di sana maka wawancara dilakukan pada ibu Suhita dan bapak trenggono ( pemilik pertama ) yang memang tempat tinggal mereka digunakan sebagai tempat usaha konveksi Duck Duck.
Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara tersebut antara lain adalah data mengenai biaya bahan baku, upah tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik , biaya tetap, volume produksi dan penjualan selama tahun 2004.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dibuat terlebih dahulu.
3.4. Alat Analisis yang Digunakan
Alat yang digunakan dalam penelitian untuk menganalisis permasalahan yang ini adalah :
3.4.1. Perhitungan Break Even (Impas)
Penentuan impas dengan teknik persamaan dilakukan dengan mendasarkan persamaan pendapatan sama dengan biaya ditambah laba. Sedangkan dengan pendekatan grafis dilakukan dengan cara mencari titik potong antara garis pendapatan penjualan dan garis biaya dalam suatu grafik (grafik impas).
A. Perhitungan Break Even dengan Pendekatan Aritmatik
Dengan menggunakan persamaan : y = cx – (bx +a)
Ket. : y = laba
c = harga jual
x = jumlah produk yang dijual
b = biaya variabel per unit
a = biaya tetap
cx = pendapatan penjualan
bx + a = total biaya

Ket : x’ = kuantitas yang dijual pada keadaan impas
Impas dalam rupiah penjualan dapat dicari dengan mengalikan rumus impas diatas dengan c, yaitu harga jual per satuan produk.

ket : cx = jumlah rupiah penjualan dalam keadaan impas
Cat. : 1 – b/c disebut dengan Marginal Income Ratio atau Contribution Margin Ratio, yaitu hasil bagi antara laba kontribusi dengan hasil penjualan.
Bukti : laba kontribusi = pendapatan penjualan – biaya variabel
= cx – bx


Gambar3.2
Contoh Grafik BEP
Pembuatan grafik dapat dilakukan dengan langkah- langkah sbb :Contoh Grafik BEP
1. Sumbu datar (sb. x ) menunjukan volume penjualan yang dinyatakan dalam satuan kuantitas.
2. Sumbu tegak (sb. y ) menunjukan pendapatan penjualan dan biaya dalam rupiah. Karena skala yang berbeda , biasanya dalam penggambaran, sumbu tegak lurus dibawahnya dibuat penyesuaian seperti huruf z.
3. Pembuatan garis biaya dimulai dengan menarik garis biaya tetap lalu menarik biaya variabel pada setiap volume penjualan dengan biaya tetap. Setelah itu ditarik garis pendapatan penjualan pada setiap volume penjualan.
4. Impas terletak pada titik perpotomgan garis pendapatan dengan garis biaya. Bila titik perpotongannya ditarik kebawah maka akan diketahui jumlah volume penjualan pada titik impas, sedangkan jika ditarik kesamping maka akan diketahui jumlah penjualan pada titik impas.
5. Garis bawah titik impas merupakan daerah rugi, sedangkan diatasnya merupakan daerah laba
3.4.2. Margin of Safety
Margin of Safety merupakan selisih antara volume penjualan yang dianggarkan dengan volume penjualan impas

3.4.3. Shut Down Point
Titik penutupan usaha atau shut down point dapat dicari dengan menggunakan rumus :


No comments:
Post a Comment