Monday, May 17, 2010

Tuga RA 4

Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel
Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesia*
Daniel Suryadarma, Adri Poesoro, Sri Budiyati, Akhmadi, dan Meuthia Rosfadhila

ABSTRAK
Studi ini mengukur dampak supermarket pada pasar tradisional di daerah
perkotaan di Indonesia secara kuantitatif dengan menggunakan metode differencein-
difference (DiD) dan metode ekonometrik, serta secara kualitatif dengan
menggunakan metode wawancara mendalam. Penelusuran melalui metode
kuantitatif secara statistik tidak menemukan dampak signifikan pada pendapatan
dan keuntungan, tetapi terdapat dampak siginifikan supermarket pada jumlah
pegawai pasar tradisional. Temuan-temuan kualitatif menunjukkan bahwa
kelesuan yang terjadi di pasar tradisional kebanyakan bersumber dari masalah
internal pasar tradisional yang memberikan keuntungan pada supermarket.
Karena itu, untuk menjamin keberlangsungan pasar tradisional diperlukan
perbaikan sistem pengelolaan pasar tradisional yang memungkinannya dapat
bersaing dan tetap bertahan bersama kehadiran supermarket.

sumber :
http://www.smeru.or.id/report/research/supermarket/supermarket_ind.pdf



Berdasarkan abstraksi di atas, sampel dan populasi Pasar yang digunakan adalah:

Sunday, May 16, 2010

Tugas RA 2

DAMPAK SUPERMARKET TERHADAP
PASAR TRADISIONAL

METODOLOGI PENELITIAN
Studi ini menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Evaluasi dampak kuantitatif menggunakan metode difference-in-difference dan model ekonometrik, dua metode yang lazim dipakai dalam evaluasi dampak (Baker 2000). Sementara itu, evaluasi dampak kualitatif dilakukan dalam bentuk wawancara mendalam dengan informan kunci. Studi ini menggunakan kuesioner untuk para pedagang dan panduan wawancara untuk para informan kunci sebagai instrumen penelitian. Kuesioner berisi pertanyaan tentang pendapat para pedagang mengenai usahanya dan dampak supermarket, serta fakta berkenaan dengan kegiatan pedagang.

A. Metode Difference-in-Difference(DiD)
Metode DiD mensyaratkan pencatatan keadaan dalam dua periode waktu – sebelum dan sesudah perlakuan (treatment). Dalam hal ini, perlakuan adalah pembukaan supermarket. Selanjutnya, juga harus terdapat kelompok kontrol (contoh: pedagang di pasar tradisional tanpa supermarket di sekitarnya), dan karakteristik kelompok perlakuan dan kelompok kontrol harus serupa. Kerangka metode DiD ditunjukkan oleh persamaan 1.

Dampak = (T2 – T1) – (C2 – C1) (1)

Di mana T1 dan T2 merupakan kondisi pedagang di pasar tradisional sebelum dan sesudah hadirnya supermarket dekat pasar tradisional, sedangkan C1 dan C2 merupakan keadaan para pedagang di pasar tradisional di mana tidak terdapat supermarket di dekatnya selama periode yang sama seperti kelompok perlakuan. Jika dampak secara signifikan berbeda dari nol, maka supermarket berdampak nyata pada pasar tradisional.
Dalam studi ini, periode data awal (baseline) ditetapkan pada 2003 untuk menjamin agar pedagang relatif masih memiliki ingatan yang baik akan keadaan pada waktu tersebut. Selain itu, kehadiran hipermarket di kota-kota lebih kecil dimulai pada akhir 2003, yang membuat tahun tersebut cocok sebagai baseline.

B. Model ekonometrik
Bila DiD hanya menghitung apakah perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan secara statistik siginifikan tanpa mengontrol variabel lain, maka model ekonometrik mengontrol kondisi-kondisi lain yang turut menyumbang pada hasil. Kondisi yang terukur mencakup tingkat pendidikan pedagang, jenis komoditas yang dijual, dan lokasi kios. Untuk mengontrol keadaan yang tidak teramati, disertakan juga variabel boneka lokasi dalam beberapa variabel khusus.
Studi ini menggunakan dua bentuk model ekonometrik yang langsung dapat diestimasi
(reduced forms). Yang pertama hanya menggunakan kondisi ex-ante (kondisi sebelum
dilakukan intervensi) sebagai variabel kontrol, sementara yang lain menggunakan baik
kondisi ex-ante dan perubahan-perubahannya antara 2003 dan 2006. Model-model umum
yang digunakan ditunjukkan dalam persamaan 2 dan 3.



di mana DCi adalah perubahan proporsional dalam indikator kinerja pedagang i. Indikator kinerja yang kita pakai adalah keuntungan, omzet, dan jumlah karyawan. Xi adalah variabel kontrol, DXi adalah perubahan dalam variabel kontrol, dan Si adalah variabel yang membedakan kelompok kontrol dari kelompok perlakuan, di mana digunakan dua indikator yang berbeda: variabel boneka dan jarak pada supermarket terdekat. Rata-rata dan deviasi standar variabel kontrol dapat dilihat di Lampiran V.

C. Wawancara Mendalam
Evaluasi dampak kualitatif mencakupi wawancara dengan para pemangku kepentingan di sektor usaha ritel: pedagang pasar tradisional yang terseleksi; pengelola pasar tradisional; pengelola supermarket; pejabat pemerintah terkait di badan-badan perencanaan daerah, dinas industri dan perdagangan, dan dinas pasar; APRINDO; dan APPSI di kabupaten sampel. Secara total, 37 informan kunci diwawancara.


KERANGKA SAMPEL
Fokus studi ini adalah wilayah perkotaan dengan tingkat kepadatan supermarket tertinggi: Jabodetabek dan Bandung. Jabodetabek meliputi Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Pasar tradisional yang menjadi pasar perlakuan dipilih secara purposif sesuai syarat berikut: terdapat supermarket dalam radius 5 kilometer dari pasar tradisional; supermarket tersebut mulai dioperasikan antara 2003 dan 2006, atau jika terdapat beberapa supermarket, semuanya telah beroperasi dalam periode tersebut; pasar tradisional harus berlokasi di kabupaten/daerah yang sama seperti pada supermarket dalam kelompok kontrol; dan pasar tradisional belum pernah direnovasi sejak 2003.
Terdapat 98 pasar tradisional di Jabodetabek dan 20 pasar tradisional di Bandung, dan kira-kira terdapat 188 usaha ritel modern/mal di Jabodetabek dan 80 di Bandung. Hanya pasar yang telah beroperasi sejak tiga tahun lalu yang dimasukkan dalam kerangka sampel. Lokasi pasar tersebut kemudian dibandingkan dengan lokasi ritel-ritel modern.
Pasar tradisional yang tidak memiliki usaha ritel modern dalam radius 5 kilometer, telah direnovasi selama tiga tahun terakhir, atau memiliki usaha ritel modern di seputarnya sebelum 2003, dikeluarkan dari kerangka sampel.
Pasar tradisional yang dijadikan kelompok kontrol dipilih berdasarkan syarat berikut:
pasar tradisional tersebut harus berlokasi di wilayah yang sama seperti pasar dalam kelompok perlakuan; tidak terdapat supermarket dalam radius 5 kilometer dari pasar tradisional; akan dibuka supermarket di sekitar pasar tradisional tersebut pada 2007; dan belum pernah direnovasi sejak 2003. Pasar tradisional yang berdekatan dengan supermarket yang baru akan dibuka pada 2007 secara khusus dipilih karena pasar tradisional yang melayani wilayah yang tidak diminati oleh supermarket mungkin tidak dapat diperbandingkan dengan pasar-pasar yang termasuk kelompok perlakuan.
Sebagaimana yang disebut di atas, kelompok kontrol dan kelompok perlakuan harus berlokasi di daerah yang sama, dan jika mungkin, di kecamatan yang bertetangga. Ini penting untuk menjamin agar karakteristik dari wilayah dan tempat tersebut relatif sama,seperti jumlah penduduk dan tingkat kepadatannya (lihat Lampiran IX).
Melalui kerangka sampel ini, ditemukan dua pasar tradisional di Depok yang merepresentasikan Jabodetabek, dan tiga pasar di Bandung. Pedagang di pasar-pasar ini membentuk kelompok perlakuan. Dua pasar tradisional, masing-masing satu di Depok dan Bandung bertindak sebagai kelompok kontrol. Dengan sampel seperti ini, pasar-pasartersebut merepresentasi pasar tradisional di daerah perkotaan di Indonesia. Pedagangyang diwawancarai terbatas pada mereka yang telah berdagang di pasar tersebut selama lebih dari tiga tahun dengan menjual buah dan sayuran segar, daging, dan bahan pokok lainnya. Pedagang yang menjual barang-barang nonmakanan atau produk siap saji tidak dimasukkan karena hanya merepresentasi proporsi pedagang tradisional yang sangat kecil. Terakhir, para responden dipilih secara acak berdasarkan metode pemilihan sampel probability-proportionate-to-size (PPS) atau probabilitas yang proporsional terhadap besar populasi.
Lembaga Penelitian SMERU, 8 November 2007
Tabel IV.1 menyajikan nama pasar, informasi mengenai supermarket terdekat, dan jumlah responden yang didata dari setiap pasar. Lampiran IV membahas karakteristik dari setiap pasar yang dipilih sebagai sampel. Sebelum membahas keadaan pasar tradisional di pusat perkotaan di Indonesia, pada dua bab berikut akan dijelaskan kerangka kebijakan mengenai sektor usaha ritel di Indonesia dan keadaan usaha ritel modern di Indonesia.




DAMPAK SUPERMARKET TERHADAP
PASAR TRADISIONAL
Temuan studi ini menunjukkan adanya penurunan kinerja pedagang pasar tradisional secara keseluruhan. Bab ini menganalisis secara khusus kontribusi supermarket terhadap penurunan tersebut. Analisis kualitatif mengawali diskusi pada bab ini, dilanjutkan dengan analisis kuantitatif untuk mengukur dampak supermarket terhadap pasar tradisional.
Di Depok, Giant Cimanggis dan Medali Mas adalah supermarket yang berlokasi dekat Pasar Cisalak dan Pasar Tugu. Menurut para pedagang, Medali Mas belum secara signifikan berdampak pada kegiatan bisnis mereka, sementara supermarket Giant telah menyerap sejumlah besar konsumen. Beberapa pedagang yakin bahwa Giant telah menyebabkan penurunan omzet dan keuntungan mereka. Para pedagang yakin bahwa di masa mendatang, keberadaan supermarket bakal mengganggu keberadaan pasar tradisional karena produk yang dijual tidak berbeda dengan harga yang sama atau bahkan lebih rendah. Terlebih lagi, fasilitas dan infrastruktur di supermarket menjamin tersedianya rasa aman dan kenyamanan yang lebih baik. Tidak hanya itu, Giant menyediakan potongan harga pada akhir pekan. Berbeda dengan keterangan para pedagang tradisional, seorang staf dari Dinas Pasar Depok menyatakan bahwa keberadaan supermarket dan hipermarket di seputar pasar tradisional kurang berdampak atau bahkan tidak berdampak sama sekali pada pasar tradisional. Akan tetapi, terkecuali di Pasar Pamoyanan, para pedagang juga menyatakan bahwa dampak supermarket tidak sesignifikan akibat atau dampak yang ditimbulkan oleh masalah internal yang kerap mereka alami di pasar. Selain itu, mereka juga mengakui bahwa ada sedikit perbedaan dalam hal karakteristik pembeli yang datang ke pasar tradisional dan modern, misalnya, para pedagang keliling dan pemilik warung/toko kecil masih memilih untuk berbelanja di pasar tradisional. Dalam salah satu wawancara, para pedagang menyebutkan bahwa mereka siap bersaing selama infrastruktur pasar dan fasilitas umumnya diperbaiki (lihat Kotak 1 dan 2). Di Bandung, para pedagang di Pasar Sederhana mengeluh tentang Carrefour yang baru dibangun. Para pedagang yang menjual bahan pangan pokok dan kebutuhan rumah tangga lainnya secara khusus telah merasakan dampaknya. Sebaliknya, pedagang di Pasar Leuwipanjang sama sekali tidak merasakan dampak supermarket. Namun demikian, keluhan utama mereka adalah seputar keberadaan para PKL. Keluhan mereka juga dibenarkan oleh para pedagang di Pasar Sederhana. Sementara itu, para pedagang di Pasar Pamoyanan mengklaim bahwa Hero telah menjadi penyebab utama penurunan kegiatan bisnis mereka. APPSI Cabang Bandung dengan keras menolak kehadiran supermarket. Mereka mengklaim bahwa pemerintah telah mengabaikan kepentingan para pedagang pasar tradisional dengan mengizinkan pendirian supermarket yang terlalu dekat dengan pasar tradisional. Meskipun APPSI hanya mewakili anggota-anggotanya, yakni sejumlah kecil para pedagang, pendapat APPSI cukup beralasan karena Pemda Bandung memang Lembaga Penelitian SMERU, 26 November 2007 berulangkali melanggar rencana tata ruangnya sendiri demi mengakomodasi kehadiran supermarket. Dari hasil pengamatan, terdapat beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa ada sebagian pasar tradisional yang terkena dampak supermarket sementara sebagian lainnya tidak. Pertama adalah faktor jarak antara pasar tradisional dan supermarket, di mana pasar tradisional yang berada relatif dekat dengan supermarket, paling banyak terkena dampak. Kedua, faktor yang terpenting adalah karakteristik konsumen pada pasar tradisional. Pasar tradisional yang pelanggan utamanya dari kalangan kelas menengah ke atas, seperti Pasar Pamoyanan, merasakan dampak yang paling besar akibat kehadiran supermarket.







Untuk mengukur seberapa akurat pendapat-pendapat tersebut di atas, berikut ini dilakukan analisis kuantitatif yang disusun dengan menggunakan indikator kinerja objektif. Tabel X.1 menyajikan hasil evaluasi dampak DiD. Analisis ini menemukan bahwa perbedaan dalam perubahan keuntungan dan omzet antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan tidak nyata secara statistik. Ini berarti bahwa kehadiran supermarket yang berada dekat pasar tradisional tidak dapat dianggap sebagai penyebab penurunan omzet dan keuntungan pasar tradisional karena di pasar kontrol yang jauh dari supermarket pun, terjadi penurunan omzet dan keuntungan yang sama.



Temuan bahwa kelompok kontrol juga mengalami penurunan keuntungan dan omzet merupakan hal yang menarik. Bahkan yang mengejutkan adalah bahwa kelompok kontrol cenderung mengalami penurunan lebih besar dalam hal keuntungan dibandingkan dengan kelompok perlakuan. Paling tidak, dari temuan ini dapat diasumsikan bahwa tidak ada bias dalam pemilihan sampel studi ini karena pedagang yang mengalami kebangkrutan dalam pasar perlakuan adalah mereka yang kemungkinan besar terpaksa menutup usahanya, meskipun tidak ada supermarket di sekelilingnya.
Metode ekonometrik dipakai untuk analisis kuantitatif kedua. Dalam estimasi persamaan 2 dan 3 dalam Bab III, terdapat tiga variabel kontrol yang digunakan. Pertama, variabel yang mengontrol kondisi pedagang pada 2003. Kedua, variabel yang mengontrol perubahan-perubahan kondisi antara 2003 dan 2006. Ketiga, variabel kontrol yang terakhir berupaya untuk mengontrol variabel tertentu yang tidak teramati, termasuk variabel boneka untuk Depok. Secara total, dilakukan 12 estimasi untuk setiap variabel dependen: perubahan proporsional dalam omzet, keuntungan, dan jumlah pegawai. Selain itu, juga digunakan dua variabel sebagai indikator keberadaan supermarket: variabel boneka keberadaan supermarket dan jarak pasar ke supermarket terdekat. Seluruh hasil estimasi dapat dilihat pada Tabel X.2. Dalam kolom 1–6 boneka perlakuan keberadaan supermarket digunakan sebagai variabel yang menjadi sorotan utama analisis. Perhatikan bahwa kolom pertama pada dasarnya sama dengan hasil untuk omzet DiD dalam Tabel X.1. Kemampuan model untuk menjelaskan variasi dalam data kian meningkat saat dimasukkan berbagai variabel kontrol, dari hampir nol pada kolom 1 hingga 0,3 pada kolom 6. Jika dicermati secara khusus pada koefisien variabel/boneka perlakuan, tanda koefisien adalah negatif dalam kolom 1 dan 4, namun menjadi positif pada kolom 2, 3, 5, dan 6. Namun, tidak satupun koefisien variabel boneka supermarket dalam spesifikasi tersebut secara statistik signifikan. Pada kolom 7–12 digunakan variabel jarak dari pasar ke supermarket terdekat untuk mengukur dampak yang mungkin timbul, alih-alih menggunakan variabel boneka. Seperti halnya dengan rangkaian estimasi pertama, tidak ada koefisien variabel jarak yang signifikan secara stastistik. Juga sama halnya dengan rangkaian estimasi pertama, memasukan lebih banyak variabel kontrol meningkatkan kemampuan model untuk menjelaskan variasi dalam data.
Kolom 13–24 mereplikasi kolom 1–12 untuk indikator keuntungan sebagai variabel
dependen. Kolom 13 memiliki hasil yang sama seperti evaluasi DiD terhadap keuntungan
yang tertera dalam Tabel X.1. Bila melihat pada seluruh tabel tersebut, tidak ditemukan adanya dampak signifikan dari variabel boneka keberadaan supermarket atau pun variabel jarak dari pasar ke supermarket terdekat. Berbeda dengan kolom 1–12, tanda koefisien tidak berubah dari plus ke minus atau sebaliknya antara model sederhana dan model yang ditambahkan dengan kontrol.
Pada kolom 25–36, jumlah pegawai digunakan sebagai indikator kinerja. Jika mengamati secara khusus koefisien variabel jarak ke supermarket terdekat, tanda koefisien dalam kolom 32, 33, 35, dan 36 bertanda positif dan secara statistik signifikan. Hal ini Lembaga Penelitian SMERU, 29 November 2007 memberikan bukti bahwa dampak supermarket pada jumlah pegawai di pasar tradisional secara statistik signifikan. Semakin jauh jarak pasar tradisional ke supermarket, semakin banyak jumlah pegawai yang dipekerjakan oleh pedagang. Terlebih lagi, menarik untuk dicatat bahwa rangkaian variabel kontrol level 2003 adalah yang menyebabkan indikator dampak menjadi signifikan. Isu terakhir berkait dengan para pedagang yang terpaksa menutup usahanya karena kehadiran supermarket. Peneliti tidak secara langsung bertemu dengan para pedagang yang menghentikan usahanya akibat kompetisi dengan supermarket. Oleh karena itu, informasi tentang hal ini dikumpulkan dari pedagang dalam kelompok perlakuan melalui kuesioner dan wawancara mendalam. Selain itu, isu ini juga ditanyakan kepada pengelola pasar tradisional dan asosiasi pasar tradisional.
Beberapa dari mereka yang tidak lagi berdagang di Pasar Cisalak berpindah ke Pasar Cibubur. Lainnya membuka usaha sendiri di rumah, dan sisanya bekerja di sektor informal. Di Pasar Musi, banyak pedagang menjadi PKL. Di samping itu, ada juga yang mengalami kebangkrutan dan kembali ke kampung halamannya. Kebanyakan pedagang yang berpindah ke jalan sekitar pasar adalah pedagang sayuran dan bahan pangan pokok. Sebagaimana kasus di Pasar Cisalak di Bandung, banyak pedagang dari Leuwipanjang berpindah ke pasar yang lebih kecil dan banyak yang menjadi PKL. Dalam kuesioner, pedagang menyatakan bahwa sepertiga dari mereka yang mengalami kebangkrutan umumnya telah berpindah ke pasar lain, sementara separuhnya menganggur. Sisanya telah berganti jenis pekerjaan seperti menjadi sopir bus atau ojek. Pedagang yang bangkrut mungkin menjadi hal yang perlu mendapat perhatian jika terdapat alasan cukup kuat yang menunjukkan bahwa pedagang yang bangkrut dalam pasar perlakuan tidak akan mengalami kebangkrutan jika tidak terdapat supermarket di sekitarnya. Akan tetapi, tidak demikian kasusnya dalam studi ini. Pertama, pasar kontrol mengalami kerugian yang cenderung lebih besar dalam hal keuntungan dibandingkan dengan pasar perlakuan. Kedua, terdapat omzet yang sebanding dalam pasar kontrol. Ketiga, tidak setiap pasar perlakuan mengalami penurunan dalam jumlah pedagang. Kesimpulannya, hanya sebagian kecil pedagang dalam kelompok perlakuan yang mengetahui seorang pedagang yang bangkrut, dan kita tidak menemukan bukti bahwa kebangkrutan pada pasar perlakuan berkaitan dengan supermarket.









sumber : http://www.smeru.or.id/report/research/supermarket/supermarket_ind.pdf


Menurut Saya, tulisan di atas menyajikan Penelitian Terapan atau Pengembangan karena jenis penelitian ini melakukan penerapan teori dalam rangka memecahkan suatu masalah dan melakukan pengujian teori untuk menilai kegunaan teori itu sendiri, mencari dan mengidentifikasi masalah lokal untuk menggeneralisasikan hasilnya.
Sedangkan metode yang digunakan adalah metode Deskriptif, Karena menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu.

TUGAS RA 3

ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA KONVEKSI DUCK DUCK ”.

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Pada saat ini, banyak perusahaan-perusahaan baik besar maupun kecil, yang berskala nasional maupun internasional bermunculan. Tentunya hal tersebut merupakan pertanda positif yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian nasional. Namun pada kenyataannya tidak bisa dipungkiri, beberapa perusahaan terutama perusahaan-perusahaan kecil gulung tikar yang salah satu penyebabnya dikarenakan biaya-biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh.
Secara umum perusahaan memiliki tujuan untuk memperoleh laba baik jangka panjang maupun jangka pendek. Dalam mencapai tujuan tersebut perusahaan mempunyai alat yaitu manajemen. Berhasil atau tidaknya perusahaan tergantung pada kemampuan manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsinya serta dalam melihat kemungkinan dimasa yang akan datang. Untuk itu manajemen dalam kegiatannya harus dapat merencanakan tujuan dan kegiatan dalam mencapai tujuannya tersebut. Hal ini tentunya selaras dengan fungsi pokok manajemen yaitu planning. Perencanaan ini penting bagi masa depan perusahaan baik untuk memperoleh protective benefit maupun positive benefit.
Kemampuan untuk mencapai laba yang optimal dapat ditentukan oleh manajemen yang baik terutama dalam perencanaan laba. Perencanaan laba yang baik akan mempengaruhi keberhasilan perusahan dalam memperoleh laba yang optimal.
Dalam perencanaan laba ini, harus diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi laba yaitu biaya, harga jual dan volume penjualan. Biaya memiliki implikasi bagi penentuan harga jual untuk mencapai laba yang dikehendaki. Kemudian harga jual ini mempengaruhi volume penjualan dan selanjutnya volume penjualan ini akan mempengaruhi volume produksi seperti siklus, volume produksi ini pun nantinya akan mempengaruhi biaya produksi dan seterusnya.

Untuk itu dalam penyusunan perencanaan laba, manajemen memerlukan berbagai informasi untuk menilai berbagai kemungkinan dan alternatif-alternatif keputusan dengan memperhatikan pengaruh dari keputusan yang akan diambil tersebut. Salah satu alat yang dapat digunakan manajemen dalam hal ini adalah analisis Break Even Point.
Tertarik dengan masalah diatas dan terdorong untuk mengetahui lebih jelas tentang analisis Break Even Point dalam penyusunan perencanaan laba perusahaan, maka penulis akan mencoba melakukan penelitian terhadap salah satu konveksi dalam usaha home industry sebagai objek penelitiannya. Dalam penulisan ini penulis mengangkat judul “ ANALISIS BREAK EVEN POINT DALAM PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PADA KONVEKSI DUCK DUCK ”.

I.2. Rumusan dan Batasan Masalah
Dari permasalahan yang akan diangkat, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perhitungan analisis Break Even Point pada konveksi Duck Duck?
2. Informasi apa yang dapat diperoleh dari analisis Break Even Point ini bagi konveksi Duck Duck?
Sedangkan penulis akan membatasi masalah dengan hanya menggunakan data produksi dan penjualan serta biaya-biaya yang terjadi dalam konveksi selama tahun 2004. Produk yang akan diteliti adalah pakaian bayi dan analisis yang akan digunakan adalah analisis Break Even Point, Margin of Safety dan Shut Down Point.

I.3. Tujuan Penelitian
Dengan mengacu terhadap rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perhitungan analisis Break Even Point dan titik penjualan konveksi pada saat kondisi Break Even Point.
2. Untuk mengetahui volume penjualan yang harus dicapai oleh konveksi tersebut untuk mencapai laba yang ditargetkan.

I.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa manfaat yang hendak diperoleh yaitu diantaranya :
1. Manfaat yang bagi penulis
penelitian ini memberikan manfaat bagi penulis yaitu menambah pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana berpikir ilmiah. Selain itu penelitian ini juga memberikan pengetahuan bagi penulis tentang bagaimana menerapkan teori mengenai Break Even Point ini kedalam praktek di lapangan dalam hal ini adalah di sebuah usaha konveksi yang memproduksi pakaian bayi.
2. Manfaat bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi bagi konveksi dalam hal ini mengenai volume penjualan yang harus dipertahankan oleh konveksi agar tidak menderita rugi dan berada pada titik impas serta volume penjualan untuk memperoleh laba yang direncanakan dengan perhitungannya.
3. Manfaat akademik
Penelitian ini dapat digunakan sebagai alat pembanding dan pembantu bagi penelitian sejenis dimasa yang akan datang atau juga dapat diteliti lebih lanjut. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi –informasi bagi keperluan studi lain dalam dunia akademis terutama bagi praktek dan pemanfaatan analisis Break Even Point dalam proses produksi nyata.

I.5. Metode Penelitian
Beberapa bagian penting yang akan digunakan dalam mendukung penelitian ilmiah ini antara lain :
I.5.1. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penulisan ini adalah sebuah konveksi yang tergolong dalam usaha home industry yang beralamat di Gg. Abesin no. 30 Bogor.
I.5.2. Data
Data yang penulis pergunakan disini adalah primer kuantitatif yaitu berupa data keuangan konveksi yang berisi biaya-biaya baik variabel maupun tetap serta penjualannya. Data yang kami pergunakan adalah data produksi, penjualan dan biaya tahun 2004.
I.5.3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan ini, untuk mendapatkan data dan informasi maka penulis menggunakan metode :
a. Metode Observasi
Disini penulis mendatangi konveksi tersebut untuk secara langsung mendapatkan data yang dibutuhkan, pengamatan langsung didalam konveksi ini juga termasuk dalam mengamati proses produksi dan bahan baku yang digunakan untuk memisahkan antara biaya tetap dan variabel.
b. Metode Wawancara
Dalam pengumpulan informasi, penulis mewawancarai nara sumber yang berkompeten dalam memberikan informasi dan data-data mengenai biaya, produksi dan penjualan yang terjadi dalam konveksi selama tahun 2004.
Dalam wawancara ini, penulis memberikan pertanyaan mengenai sejarah singkat berdirinya konveksi, kepengurusan konveksi dan kegiatan operasional konveksi serta data-data/informasi lain yang diperlukan.
I.5.4. Alat analisis yang digunakan
Untuk menganalisis permasalahan ini, maka penulis menggunakan alat analisis yang berhubungan dengan analisis Break Even Point yaitu perhitungan baik dengan pendekatan matematik ( mathematic approach ) maupun dengan
grafik ( grafik aproach ) yang juga disertai dengan perhitungan perencanaan laba yang ditargetkan. Sedangkan untuk alat analisis pendukung dipakai Margin Of Safety dan Shut Down Point.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Kerangka Teori
2.1.1. Pengertian Break Even
Kata Break Even Point berasal dari bahasa inggris yang bila diartikan kedalam bahasa Indonesia berarti tidak rugi, tidak laba, kembali pokok, pas atau yang sering dipakai yaitu impas.
Ada beberapa pengertian mengenai Break Even Point yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu antara lain :
A. Menurut Mulyadi ( 2001 ; 232 )
“Break Even Point adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak mengalami rugi, artinya suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan sama dengan jumlah biaya. Apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk biaya tetap saja.”
B. Menurut Drs. R. A Supriyono ( 2000 ; 332 )
“Break Even Point disebut dengan impas atau pulang pokok adalah suatu keadaan perusahaan dimana jumlah total penghasilan besarnya sama dengan jumlah total biaya.”
C. Menurut Henry Simamora ( 1999 ; 163 )
“Break Even Point adalah volume penjualan dimana pendapatan dan jumlah bebannya sama sekali tidak dapat terdapat laba / rugi bersih. Laba bersih deperoleh bilamana volume penjualan berada diatas titik impas.”
D. Menurut Bambang Riyanto ( 2001 ; 359 )
“Analisa Break Even Point adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan atau disebut cost-profit-volume (CPV)“
Jadi, dari beberapa pendapat mengenai Break Even Point, dapat disimpulkan bahwa Break Even Point adalah suatu titik dimana total biaya sama dengan pendapat, artinya tidak diperoleh laba atau rugi.
2.1.2. Asumsi Break Even Point
Asumsi – asumsi yang melandasi Break Even Point menurut Mulyadi (2001 ; 260 ), yaitu:
1. Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan Biaya tetap akan selalu konstan sedangkan biaya variabel berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
2. Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan dalam periode yang bersangkutan
3. Kapasitas produksi pabrik dianggap relatif konstan.penambahannya akan mempengaruhi biaya tetap dan hubungan CPV
4. Harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah
5. Efisiensi produksi dianggap tidak berubah
6. Perubahan jumlah sediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan
7. Komposisi produk yang akan dijual dianggap tidak berubah
8. Mungkin anggapan yang paling penting diantara anggapan-anggapan diatas adalah ” bahwa volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya ”.
2.1.3. Kegunaan Analisis Break Even Point
Analisis Break Even Point dapat digunakan untuk membantu menetapkan sasaran atau tujuan perusahaan. Adapun kegunaan yang lain adalah :
• Menentukan jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum ini berarti juga jumlah produksi minimum yang harus dibuat.
• Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh laba yang telah direncanakan. Berarti, tingkat produksi harus ditetapkan untuk memperoleh laba tersebut.
• Mengukur dan menjaga agar penjualan tidak kurang dari titik impas atau Break Even Point, tingkat produksi tidak dibawah titk impas.
• Menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan besarnya hasil penjualan pada tingkat produksi tertentu.
• Memudahkan perusahaan dalam pemberian data pada pihak luar perusahaan ( eksternal ) mengenai biaya, volume produksi, harga jual dan tingkat penjualan.
• Sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk memproduksi produk baru yang kiranya mampu menghasilkan laba besar.
Jadi, Analisa Break Even Point ini memberikan beberapa kegiatan secara langsung bagi perusahaan dalam operasinya, yaitu :
• Dasar dalam perencanaan pengembangan perusahaan
• Alat pengendalian budget
• Alat perencanaan laba
2.1.4. Biaya
Dalam penulisan ini biaya merupakan salah satu variabel penting yang diperhatikan terutama dalm perggunaannya sebagai masukan dalam alat analisis yang nantinya akan digunakan dalam pembahasan. Untuk itu relevan rasanya bila penulis mengemukakan pengertian mengenai biaya terutama biaya yang akan digunakan, mengingat ada beberapa pengertian mengenai biaya menurut beberapa golongan karena dalam akuntasi dikenal konsep ”different costs for different purpose”.
Konsep penggolongan biaya yang akan digunakan dalam pembahasan dalam penulisan ini adalah biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan yang merupakan hal yang penting dalam pengambilan keputusan, estimasi biaya dimasa yang akan datang dan evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan. Dalam hal ini biaya dibagi menjadi tiga : biaya tetap, biaya variabel dan biaya semivariabel. Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian, baik biaya tetap maupun biaya variabel harus dipecah lagi sebagai berikut :
• Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran perubahan volume kegiatan tertentu. Biaya tetap atau biaya kapasitas merupakan biaya untuk mempertahankan kemampuan perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu. Besarnya dipengaruhi oleh kondisi perusahaan jangka panjang, teknologi serta strategi menajemen.
- Committed Fixed Cost
Sebagian besar berupa biaya tetap yang timbul dari pemilikan pabrik, equipment, dan organisasi pokok. Perilakunya dapat diketahui dengan jelas dengan mengamati biaya – biaya yang tetap dikeluarkan jika seandainya perusahaan tidak melakukan kegiatan sama sekali dan akan kembali ke kegiatan normal.
Contoh : Biaya depresiasi, pajak PBB, sewa rumah, asuransi dll.
- Discretionary Fixed Cost
Merupakan biaya (a) yang timbul dari keputusan penyediaan anggaran secara berkala yang mencerminkan kebijakan manajemen puncak mengenai biaya yang dikeluarkan dan (b) yang tidak dapat menggambarkan hubungan yang optimum antara masukan dangan keluar.


• Biaya variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya bahan baku merupakan contoh biaya variabel yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi.
Ada jenis biaya variabel yang perilakunya bertingkat (step like behavior) dan yang perilakunya berbah dengan perubahan volume kegiatan (proportionately variable costs).



Berdasarkan hubungannya dengan volume kegiatan perusahaan maka biaya dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
- Engineered Variabel Cost
Adalah biaya yang memiliki hubungan fisik tertentu dengan ukuran kegiatan tertentu. Hampir semua biaya variabel merupakan Engineered Cost. Engineered Variabel Cost merupakan biaya yang antara masukan dan keluarannya mempunyai hubungan yang erat dan nyata.
Contoh : biaya bahan baku.
- Discretionary Variabel Cost
Discretionary Variabel Cost berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan karena manajemen memutuskan kebijakan demikian, dengan kata lain merupakan biaya yang masukan dan keluarannya memiliki hubungan erat namun tidak nyata ( bersifat artificial).
Contoh : biaya iklan

• Biaya Semi Variabel
Adalah biaya yang memiliki unsur tetap dan variabel di dalamnya. Unsur biaya yang tetap merupakan jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa sedangkan unsur variabel merupakan bagian dari biaya semi variabel yang dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan.


2.1.5. Perencanaan Laba
Perencanaan merupakan proses dasar bagi manajemen dalam mengambil suatu keputusan atau tindakan, berarti perencanaan laba juga termasuk dasar bagi manajemen dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan terutama yang menyangkut tentang kegiatan apa yang dilakukan perusahaan dalam merealisasikan rencana tersebut.
Perencanaan laba termasuk kedalam rencana operasional (operational plan) berdasarkan jangka waktunya, karena rencana ini meliputi terhadap kegiatan-kegiatan operasional dan bersifat jangka pendek. Artinya laba yang direncanakan oleh suatu perusahaan, tiap periodenya dapat berubah-ubah.
Hubungan perencanaan laba dengan analisis Break Even Point adalah bahwa dengan menggunakan analisis Break Even Point dimana bila diketahui berapa volume penjualan yang harus diperoleh agar biaya bisa ditutupi, besarnya laba bisa dimasukan, sehingga dengan begitu besarnya volume penjualan yang baru bisa ditentukan agar laba bisa dicapai. Untuk perencanaan laba jangka pendek maka biaya dianggap tetap dan variabel, bila dihubungkan dengan analisis Break Even Point tentunya bisa digunakan, karena analisis Break Even Point itu sendiri menggunakan biaya tetap dan variabel, sedangkan untuk perencanaan laba jangka panjang maka semua elemen biaya dianggap variabel.
Perencanaan laba jangka pendek digunakan untuk menjabarkan program jangka panjang kedalam rencana jangka pendek (anggaran). Rencana jangka pendek kemudian diimplementasikan dan dipakai untuk mereview kemajuan yang dicapai dalam implementasi anggaran dan program. Penyusunan anggaran adalah suatu proses penyusunan rencana laba jangka pendek yang berisi langkah-langkah yang ditempuh oleh suatu perusahaan dalam melaksanakan sebagian dari program.
Dasar-dasar perencanaan laba antara lain:
a. Pengalaman yang lalu dari segi volume penjualan
b. Kebijaksanaan penetapan harga jual ke depan
c. Pesanan masa lalu yang tidak dimiliki
d. Penelitian pasar
e. Keadaan perekonomian umum
f. Keadaan perekonomian industri
g. Gerakan petunjuk keadaan perekonomian seperti GNP, ketenagakerjaan dan biaya
h. Perikalan dan produksi
i. Persaingan industri
j. Pangsa pasar.

2.2. Kajian Penelitian Sejenis
Penulisan mengenai penelitian break event point ini ternyata sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh beberapa mahasiswa. Kesamaan masalah yang diteliti ini setidaknya memberikan gambaran bahwa permasalahan ini memang menarik untuk diteliti meskipun objek yang diteliti berbeda.
Namun, pada setiap penulisan mengenai break event point yang penulis baca terdapat perbedaan-perbedaan dari segi teknik pemaparan dan penulisan serta isi penelitian tentunya, sebab setiap penelitian harus meneliti objek yang berbeda. Studi kepustakaan tentang penelitian sejenis ini sudah tentu memberikan manfaat bagi penulis terutama dalam memberikan gambaran serta layout penulisan ilmiah tentang penelitian break event point ini disajikan. Penelitian-penelitian yang pernah dilakukan mengenai analisis break event point ini antara lain :
a. Penelitian oleh Mohamad Sanusi, NPM 21201293
Penelitian yang dilakukan olehnya berjudul Perencanaan Laba Pada Pabrik Tahu Kuning “Iwan”. Pada perumusan masalah penulis memiliki kesamaan yaitu merumuskan masalah tentang berapa volume penjualan yang harus dicapai untuk mendapatkan laba yang ditargetkan dan pada break even point. Sedangkan alat analisis yang dipakai adalah perhitungan break event point dengan teknik persamaan dan margin of safety. Berhubung produk yang dihasilkan oleh onjek penelitian hanyalah 1 macam maka analisis break event pointnya pun menggunakan perhitungan untuk 1 macam produk saja.
Perbedaan penelitian M. Sanusi selain objek penelitiannya dengan penulis disini adalah penggunaan alat analisis, penulis sekarang ini menambahkan analisis shut down point dengan maksud sebagai alat pertimbangan untuk melihat pada tahap mana perusahaan dapat terus melanjutkan atau menutup usahanya. Sedangkan untuk landasan teori, perbedaan terletak pada penyusunan subbab dan cetakan buku yang dipakai meskipun secara umum isinya hampir sama.
b. Penelitian oleh Tri Hastuti, NPM 11201935
Tri Hastuti mahasiswa F.E. jurusan manajemen ini pun pernah melakukan penelitian yang sejenis. Penelitiannya diberi judul Analisis Break Event Point Produk Kue Donat Pada CV Mar Donuts. Penelitian yang dilakukan oleh Tri Hastuti secara umum hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh M. Sanusi, perumusan masalahnya masih tetap mengedepankan tentang berapa jumlah unit penjualan pada titik impas. Pada landasan teorinya, didapat beberapa teori tentang break event point yang dikemukakan oleh ahli-ahli ekonomi yang tidak terdapat dalam penelitian penulis saat ini yaitu salah satunya pengertian mengenai break even point menurut Hans & Monen (1997:210), break event point adalah titik dimana pendapatan sama dengan total biaya yaitu titik dimana laba sama dengan nol.
Penelitian yang dilakukan oleh Tri Hastuti ini menggunakan alat analisis yang hampir sama seperti perhitungan break event dengan persamaan, namun menggunakan Sales Mix, ini dikarenakan objek yang diteliti menghasilkan dua macam produk. Penelitiannya pun belum menggunakan shut down point dalam melengkapi alat analisis yang digunakan.
c. Penelitian oleh Diane Ika D., NPM 10200489
Penelitian yang sejenis pun pernah dilakukan oleh Diane Ika D., mahasiswi jurusan manajemen, fakultas Ekonomi UG. Judul penelitannya adalah Analisis Break Event Point Sebagai Alat Perencanaan Laba Pada Salon Anne. Penelitian yang dilakukan tahun 2003 ini, secara umum masih sama dengan penelitian sejenis lainnya, keberadaannya pun masih dalam point-point yang sama yaitu sekitar landasan teori tentang pengertian break event saja karena buku yang dipakai masih dalam cetakan lama meskipun isinya hampir sama, serta lay out penulisannya. Salah satu pengertian Break Even Point yang bisa diambil yaitu pengertian break event point menurut Sudarto S. (1996:145) “break event point merupakan keadaan yang sama besarnya/berimbang sehingga bagi suatu aktivitas perusahaan tidak akan mendapatkan keuntungan atas kerugian”.
Namun yang membedakan penulisan Diane Ika D. ini dengan penelitian sejenis lainnya termasuk penulisan yang dilakukan dengan penulis saat ini adalah produk dari objek yang diteliti berupa jasa. Objek yang diteliti adalah salon Anne yang menghasilkan jasa dengan bermacam-macam pelayanan yang tidak diproduksi secara tetap setiap harinya atau bulannya.
Alat analisis yang dipakai pun hampir sama yaitu perhitungan analisis break event point dengan persamaan dan Margin Of Safety tanpa menggunakan Shut Down Point.

2.3. Alat Analisis
Alat analisis yang digunakan dalam pembahasan nanti adalah perhitungan break event point yang disertai perencanaan laba, Margin Of Safety dan Shut Down Point.
2.3.1. Analisis Break Event Point
Analisis break event point ini merupakan variabel penting yang menjadi alat analisis dalam penelitian. Dalam variabel perhitungannya secara umum bisa menggunakan dua cara yaitu dengan teknik persamaan dan grafik. Namun bila menggunakan buku Edisi 2 karangan Bambang Riyanto (2001:359), ada 3 cara pendekatan perhitungan analisis break event point untuk perusahaan dalam suatu periode yaitu:
1. Pendekatan Tabelaris
Pendekatan tabelaris dilakukan dengan cara menghitung jumlah penghasilan dan biaya pada berbagai tingkat penjualan/produksi. Dengan pendekatan ini berarti perusahaan dalam meramalkan pada tingkat atau volume penjualan berapa perusahaan pada titik break event atau laba sama dengan nol dilakukan dengan coba-coba artinya peramalan dilakukan satu persatu sampai ditemukan selisih antara kolom jumlah penghasilan dan biaya sama dengan nol.
2. Pendekatan Grafis
Pendekatan grafis ini dilakukan dengan cara menggunakan kurva penghasilan, biaya tetap dan total biaya pada berbagai tingkat penjualan. Break Event Point biasanya digambarkan dalam suatu grafik yang disebut gambar break event (break even chart), pada gambar tersebut akan didapat dan diketahui sekaligus jumlah rupiah dari hasil penjualan, unit yang dijual, biaya variabel, biaya tetap serta marginal laba atau kerugian pada tingkat penjualan tertentu dengan melihat titik Break Event Pointnya.
3. Pendekatan Aritmatik
Pendekatan Aritmatik ini dapat dilakukan dengan rumus-rumus aljabar dan dengan trial & error. Bila menggunakan rumus-rumus aljabar, maka titik Break Event Point baik dalam unit maupun satuan uang (rupiah) dengan cepat bisa diketahui.




Dengan begitu perhitungan dilakukan secara berulang-ulang sampai selisihnya sama dengan nol. Cara ini sepertinya kurang efisien karena memerlukan waktu yang lama dibandingkan dengan menggunakan rumus aljabar (persamaan).



2.3.2. Margin of Safety
Margin of Safety (MoS) menjelaskan bahwa hubungan antara penjualan pada tingkat Break Event Point merupakan batas keamanan atau Margin of Safety yang besar adalah lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang MoS nya rendah karena MoS menunjukkan indikasi bagi manajemen tentang berapakah penurunan yang dapat ditolerir sehingga perusahaan tidak menderita rugi tapi juga belum memperoleh laba.
Margin of Safety dapat dihubungkan langsung dengan keuntungan perusahaan dengan rumus :


2.3.3. Shut Down Point
Titik penutupan usaha (shut down point) merupakan suatu titik yang menentukan perusahaan harus menutup usahanya atau berhenti berproduksi bila pendapatan tidak dapat menutupi biaya tunainya (cost > revenue). Untuk dapat menghitungnya bisa dilakukan dengan mencari titik impas atau dengan melihat berapa besarnya total biaya dimana pendapatan penjualan dibawah Total biaya maka perusahaan secara ekonomis tidak pantas untuk dilanjutkan karena akan menyebabkan perusahaan tidak mampu membayar biaya tunainya.
Keputusan untuk menutup usaha dilakukan dengan mempertimbangkan :
1. Pendapatan penjualan dengan biaya tunai
Biaya tunai (cash cost atau out of pocket costs) adalah biaya-biaya yang memerlukan pembayaran segera dengan uang kas. Sedangkan dalam PSAK adalah biaya yang memerlukan pengeluaran dengan uang kas sekarang atau dalam jangka pendek bagi pengambilan keputusan.
Contoh : biaya tetap dan variabel seperti biaya pemeliharaan, gaji pegawai pabrik dan lain-lain.
2. Biaya terbenam (sunk cost)
Pengeluaran yang dilakukan di masa lalu yang manfaatnya masih dinikmati sekarang.
Contoh : biaya depresiasi, amortisasi dan deplesi





BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah sebuah konveksi dalam usaha home industry yang bergerak dalam bidang pembuatan pakaian bayi (garmen) yaitu Konveksi DUCK DUCK yang beralamat di Gg. Abesin no. 30 Bogor.
3.1.2. Sejarah Singkat
Konveksi DUCK DUCK merupakan usaha perseorangan yang bergerak dibidang konveksi pakaian yang menghasilkan produk berupa pakaian bayi. Perusahaan yang mempekerjakan 12 orang ini dimulai dari usaha kecil rumahan yang dilakukan oleh ibu Suhita Setiady. Pada awalnya sekitar tahun 1960, Ibu Suhita mulai menjahit dan menerima pesanan jahitan dirumahnya dikawasan Bogor, mesin yang digunakannya pun hanyalah sebuah mesin jahit yang pada waktu itu masih seharga Rp.150.000,-. Lama kelamaan ibu Suhita mencoba untuk memproduksi pakaian dewasa yang dijualnya di pasar-pasar, namun pada kenyataannya usahanya ini malah merugi karena toko-toko atau orang-orang yang mengambil jahitan hasil produksinya tidak membayar lunas produk tersebut sehingga ibu Suhita berhenti memproduksi.
Selanjutnya anak-anak ibu Suhita yang bernama Damayanti dan Wulandari menganjurkan ibunya agar mulai memproduksi pakaian lagi, namun kali ini yang diproduksi adalah pakaian bayi. Maka sejak tahun 1995 ibu Suhita mulai merintis usaha konveksinya dengan dua mesin jahit dan satu mesin obras dibantu dengan kedua putrinya. Usaha inipun akhirnya berkembang dan banyak mengisi produk-produknya di toko-toko di beberapa supermarket dan mal-mal di Jakarta.
Akhirnya usaha konveksi ini kini diserahkan ibu Suhita kepada kedua orang putrinya dan ibu Suhita hanya mengawasi proses produksi dan mendesain pola dibantu oleh suaminya yaitu bapak Tunario Trenggono yang menangani 19 bagian administrasi sehari-hari. Sedangkan manajemen konveksi DUCK DUCK ini sekarang dikelola oleh Damayanti dan Wulandari yang tinggal di Jakarta.
3.1.2. Struktur Organisasi
Struktur organisasi perusahaan bila digambarkan sangatlah sederhana, berhubung perusahaan ini merupakan perusahaan perseorangan yang berskala kecil yang dimiliki oleh sebuah keluarga.
Struktur Organisasi dapat digambarkan sbb:



Karena termasuk usaha keluarga yang masih berskala kecil maka pembagian tugas pun tidak terstruktur dengan jelas, namun adapun tugas-tugas untuk masing-masing bagian dapat kami simpulkan sbb :
�� Pemilik/Pengelola
Pemilik/Pengelola disini adalah Damayanti dan Wulandari. Adapun tugas-tugas yang dilakukan oleh mereka antara lain :
�� Membeli dan memasok persediaan bahan baku
�� Memasarkan produk-produk ke toko-toko langganan
�� Membuat laporan keuangan
�� Mengecek kegiatan produksi seminggu sekali
�� Bagian Produksi
Yang dimaksud bagian produksi disini adalah ibu Suhita. Adapun tugas-tugas yang dilakukannya antara lain :
�� Mengawasi proses produksi
�� Mendesain Pola
�� Mengatur tenaga kerja
�� Bagian Administrasi
Bagian administrasi disini adalah bapak Tunario Trenggono. Adapun tugasnya antara lain :
�� Membayar tagihan-tagihan
�� Mengatur administrasi sehari-hari
�� Karyawan
Tenaga karyawan dikelompokkan kedalam pengerjaan tugas-tugas tertentu. Jumlah karyawan ada 12 orang, adapun pengelompokan kerjanya sbb :
�� Bagian menggunting pola = 2 orang
�� Bagian menjahit dan obras = 5 orang
�� Bagian finishing = 5 orang

3.2. Data yang Digunakan
Bahan baku informasi atau data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah data-data keuangan berupa biaya-biaya yang dipisahkan kedalam biaya variabel maupun tetap beserta dengan penjualan yang terealisasi pada periode yang akan diteliti yaitu tahun 2004. Data yang digunakan itu sekurang-kurangnya memenuhi syarat data yang baik yaitu ada hubungannya dengan persoalan/permasalahan yang akan diteliti atau dipecahkan.
Data tersebut nantinya akan diolah dan dianalisis lebih lanjut menurut metode yang dipilih dalam penelitian ini.
Menurut cara memperolehnya, data yang digunakan merupakan data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah dari tangan pertama dalam hal ini adalah konveksi DUCK DUCK itu sendiri. Sedangkan menurut sifatnya data merupakan data kuantitatif yang berbentuk angka.

3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data erat sekali hubungannya dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan, pengumpulan data hendaknya memperhatikan aspek validitas.
Berhubungan dengan data yang digunakan yaitu data primer, maka dalam pengumpulannya penulis memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya yang tinggi yaitu pada metode observasi dan wawancara, meski demikian keuntungan penggunaan data primer ialah terpercaya.
Metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis antara lain :
a. Metode Observasi
Melalui metode ini, penulis mendatangi konveksi secara langsung untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Pengamatan yang dilakukan dimaksudkan agar penulis bisa lebih jelas memisahkan antara biaya tetap dan biaya variabel yang digunakan dalam proses produksi.
Observasi dilakukan pada tanggal 9 April 2005 sekitar jan 11.00-14.00 WIB. Penulis hanya sekali mendatang konveksi karena data yang diperoleh pada kunjungan pertama sudah cukup lengkap.
b. Metode Wawancara
Dalam pengumpulan informasi terutama yang berhubungan dengan profile objek penelitian dalam hal ini adalah konveksi DUCK DUCK, penulis memerlukan informasi yang diperoleh dari pemilik perusahaan dengan memberikan beberapa pertanyaan.
Selain itu, data keuangan yang diperlukan oleh penulis bisa didapatkan dengan menggunakan metode ini karena data tersebut dipegang oleh pemilik perusahaan. Namun karena pada saat penulis datang ke konveksi, pemilik konveksi sedang tidak ada di sana maka wawancara dilakukan pada ibu Suhita dan bapak trenggono ( pemilik pertama ) yang memang tempat tinggal mereka digunakan sebagai tempat usaha konveksi Duck Duck.
Informasi yang diperoleh dari hasil wawancara tersebut antara lain adalah data mengenai biaya bahan baku, upah tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik , biaya tetap, volume produksi dan penjualan selama tahun 2004.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dibuat terlebih dahulu.

3.4. Alat Analisis yang Digunakan
Alat yang digunakan dalam penelitian untuk menganalisis permasalahan yang ini adalah :
3.4.1. Perhitungan Break Even (Impas)
Penentuan impas dengan teknik persamaan dilakukan dengan mendasarkan persamaan pendapatan sama dengan biaya ditambah laba. Sedangkan dengan pendekatan grafis dilakukan dengan cara mencari titik potong antara garis pendapatan penjualan dan garis biaya dalam suatu grafik (grafik impas).
A. Perhitungan Break Even dengan Pendekatan Aritmatik
Dengan menggunakan persamaan : y = cx – (bx +a)
Ket. : y = laba
c = harga jual
x = jumlah produk yang dijual
b = biaya variabel per unit
a = biaya tetap
cx = pendapatan penjualan
bx + a = total biaya


Ket : x’ = kuantitas yang dijual pada keadaan impas
Impas dalam rupiah penjualan dapat dicari dengan mengalikan rumus impas diatas dengan c, yaitu harga jual per satuan produk.



ket : cx = jumlah rupiah penjualan dalam keadaan impas
Cat. : 1 – b/c disebut dengan Marginal Income Ratio atau Contribution Margin Ratio, yaitu hasil bagi antara laba kontribusi dengan hasil penjualan.
Bukti : laba kontribusi = pendapatan penjualan – biaya variabel
= cx – bx









Gambar3.2
Contoh Grafik BEP


Pembuatan grafik dapat dilakukan dengan langkah- langkah sbb :
1. Sumbu datar (sb. x ) menunjukan volume penjualan yang dinyatakan dalam satuan kuantitas.
2. Sumbu tegak (sb. y ) menunjukan pendapatan penjualan dan biaya dalam rupiah. Karena skala yang berbeda , biasanya dalam penggambaran, sumbu tegak lurus dibawahnya dibuat penyesuaian seperti huruf z.
3. Pembuatan garis biaya dimulai dengan menarik garis biaya tetap lalu menarik biaya variabel pada setiap volume penjualan dengan biaya tetap. Setelah itu ditarik garis pendapatan penjualan pada setiap volume penjualan.
4. Impas terletak pada titik perpotomgan garis pendapatan dengan garis biaya. Bila titik perpotongannya ditarik kebawah maka akan diketahui jumlah volume penjualan pada titik impas, sedangkan jika ditarik kesamping maka akan diketahui jumlah penjualan pada titik impas.
5. Garis bawah titik impas merupakan daerah rugi, sedangkan diatasnya merupakan daerah laba
3.4.2. Margin of Safety
Margin of Safety merupakan selisih antara volume penjualan yang dianggarkan dengan volume penjualan impas




3.4.3. Shut Down Point
Titik penutupan usaha atau shut down point dapat dicari dengan menggunakan rumus :



TUGAS RA 1

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I - 2006
85
PENELITIAN DAMPAK KEBERADAAN PASAR MODERN
(SUPERMARKET DAN HYPERMARKET)
TERHADAP USAHA RITEL
KOPERASI/WASERDA DAN PASAR TRADISIONAL1


Abstract
The purpose of this study is (1) to identify position of traditional market and modern
market from institutional aspect and existing regulation, (2) to know the impact of the
existance of modern market to retail business managed by cooperative, traditional
market and small and medium enterprise and (3) to draw up a concept on the
empowerment of retail business applied by cooperative, traditional market and small
and medium enterprise.
The main problem of this study is (1) the position of traditional market and modern
market seen from institusional aspect and the existing regulation, (2) the impact of the
existence of modern market to retail business managed by cooperative, traditional
market and small and medium enterprise seen in aspect of business volume, selling
price, worker numbers and factors affecting consumer behaviour in determining to
shopping and (3) the concept to empower retail business applied by cooperative,
traditional market and small and medium enterprises impact to business volume of
traditional market.
Between before and after the existence of modern is quite different, in which the business
volume of traditional market was higher before the existence of modern market, while
variable of selling price and worker number is just a slight difference.
The conclusion of this study is (1) the existence of modern market has shreatened
traditional market in which, it has developed by 31,4% (AC Nielson) and has developed
negatively by 8%, (2) business volume of traditional market has decreased due to the
existence of modern market. No significant difference in worker numbers and
commodities selling price and (3) the decision to shopping in modern market is strongly
affected by factors of : comfort, sanitation, availability of other facilities, and consumers
decision to shopping in traditional market is strongly affected by distance and shopping
habit.


PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta, ditambah kunjungan
wisatawan manca negara sekitar 5 juta per tahun merupakan pasar yang empuk
bagi peritel nasional maupun peritel asing. Memang banyaknya jumlah
penduduk merupakan faktor utama berhasil tidaknya pasar ritel. Di Indonesia
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I - 2006
87
diterapkan sebagai upaya untuk menjaga kelangsungan usaha ritel yang
dikelola oleh koperasi/waserda, pasar tradisional, dan PKM;
1.3 Tujuan dan Manfaat
a. Tujuan
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk :
(1) Mengidentifikasi posisi pasar tradisional dan pasar modern (supermarket
dan hypermarket) dari aspek kelembagaan dan peraturan perundangundangan
yang berlaku;
(2) Mengetahui dampak kehadiran pasar modern (supermarket dan
hypermarket) terhadap usaha ritel yang dikelola oleh koperasi/waserda,
pasar tradisional, dan PKM;
(3) Menyusun suatu konsep pemberdayaan usaha perdagangan ritel yang
dapat diterapkan koperasi/waserda, pasar tradisional, dan PKM.
b. Manfaat
Penelitian ini bermanfaat untuk :
(1) Mengetahui kondisi atau potret pasar modern, waserda koperasi dan
pasar tradisonal.
(2) Mengevaluasi dan mendistribusikan dampak keberadaan pasar modern.
(3) Menyusun konsep pengembangan waserda koperasi dalam mengelola
usaha ritel, dikaitkan dengan keberadaan pasar modern dan pasar
tradisional.

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

2.1 Landasan Teori
1. Pengertian Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Selanjutnya Sinaga (2006) mengatakan bahwa pasar modern adalah pasar
yang dikelola dengan manajemen modern, umumnya terdapat di kawasan
perkotaan, sebagai penyedia barang dan jasa dengan mutu dan pelayanan
yang baik kepada konsumen (umumnya anggota masyarakat kelas menengah
ke atas). Pasar modern antara lain mall, supermarket, departement store,
shopping centre, waralaba, toko mini swalayan, pasar serba ada, toko serba
ada dan sebagainya. Barang yang dijual disini memiliki variasi jenis yang
beragam. Selain menyediakan barang-barang lokal, pasar modern juga
menyediakan barang impor. Barang yang dijual mempunyai kualitas yang
relatif lebih terjamin karena melalui penyeleksian terlebih dahulu secara ketat
sehingga barang yang rijek/tidak memenuhi persyaratan klasifikasi akan ditolak.
Secara kuantitas, pasar modern umumnya mempunyai persediaan barang di
gudang yang terukur. Dari segi harga, pasar modern memiliki label harga yang
pasti (tercantum harga sebelum dan setelah dikenakan pajak). Pasar modern
juga memberikan pelayanan yang baik dengan adanya pendingin udara yang
JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I - 2006
89
3.1 Metode Kerja
Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode dan
pendekatan partisipatif. Semua tenaga ahli dilibatkan dalam setiap tahapan
kerja. Dengan pendekatan ini, pembahasan hasil analisis dapat dilakukan
secara lebih komprehensif.
3.2 Wilayah Penelitian
Pelaksanaan kegiatan penelitian ini mengambil sampel pada 10 wilayah
(propinsi) kajian, yaitu : (1) Sumatera Utara, (2) Sumatera Selatan, (3) Jambi,
(4) Jawa Barat, (5) DKI Jakarta, (6) Jawa Tengah, (7) Jawa Timur, (8) Bali, (9)
Sulawesi Selatan, dan (10) Sulawesi Utara.
Objek kajian terdiri dari : (1) Pasar tradisional, (2) Koperasi/waserda, (3) UKM
sektor ritel, (4) Pasar modern dan (5) Instansi terkait (sumber data pelengkap).
Tabel 1. Sebaran dan Objek Sampel
3.3 Metode Penggalian Data





Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sekaligus untuk menjawab
beberapa pertanyaan sebagaimana dirumuskan dalam identifikasi masalah,
ditempuh dengan menggunakan beberapa metode analisis. Metode dan teknik
analisis data ádalah sebagai berikut :
1) Identifikasi masalah I dan identifikasi masalah III dianalisis dengan
menggunakan metode analisis deskriptif, ialah analisis yang dilakukan
dengan mengeksplorasi data secara deskriptif. Dalam metode ini,
eksplorasi data lebih banyak menggunakan pendekatan kualitatif.
2) Identifikasi masalah II dianalisis dengan menggunakan metode statistika
dengan bantuan software SPSS versi 11.5
a. Untuk menjawab sub masalah ke-1, teknik statistika yang digunakan
adalah univariate analysis, yaitu Mann Whitney U dan t-test. Untuk
menggunakan teknik ini terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data
dengan menggunakan metode one-sample Kolmogorov-Smirnov
b. Untuk menjawab sub identifikasi masalah ke-2 dilakukan dengan
menggunakan analisis regresi logistik (logit regression). Alasan
pemilihan metode ini mengingat variabel independent (Y) memiliki
karakteristik biner, yaitu keputusan untuk memilih berbelanja di pasar
tradisional (YA) atau di pasar modern (YB).
Persamaan umum model Regresi Logistik adalah :
r = 1
1 + e - (Bo + BiXi + ....... + BnXn)
dimana
r= Probabilitas keputusan konsumen untuk membeli/berbelanja dipasar
modern atau pasar tradisional
e = logaritma natural
Bo = konstanta
Bi-Bn = koefisien regresi logistik
Xi-Xn = variabel-variabel penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dari sisi kelembagaan, perbedaan karakteristik pengelolaan pasar modern dan
pasar tradisional nampak dari lembaga pengelolanya. Pada pasar tradisional,
kelembagaan pengelola umumnya ditangani oleh Dinas Pasar yang merupakan
bagian dari sistem birokrasi. Sementara pasar modern, umumnya dikelola
oleh profesional dengan pendekatan bisnis. Selain itu, sistem pengelolaan
pasar tradisional umumnya terdesentralisasi dimana setiap pedagang mengatur
sistem bisnisnya masing-masing. Sedangkan pada pasar modern, sistem
pengelolaan lebih terpusat yang memungkinkan pengelola induk dapat mengatur
standar pengelolaan bisnisnya. Dari aspek kebijakan, dapat dijelaskan bahwa
pemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan tentang penataan
perpasaran. Beberapa kebijakan yang telah dikeluarkan dapat dilihat pada
tabel di bawah ini



JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I - 2006
95
tenaga Kerja)
Hasil uji normalitas data (omzet penjualan, harga jual barang, dan jumlah
tenaga kerja) disajikan pada tabel di bawah ini



Dari hasil uji beda di atas dapat diketahui bahwa hanya omzet penjualan
(pasar tradisional) yang terbukti berbeda secara signifikan (memiliki perbedaan
rata-rata) antara sebelum dengan sesudah adanya pasar modern. Sedangkan
dua aspek lainnya yaitu harga jual barang dan jumlah tenaga kerja tidak
menunjukkan perbedaan yang signifikan. Untuk mengetahui perbandingan
rata-rata ketiga indikator penelitian dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 14. Perbandingan Rata-Rata Omzet Penjualan, Harga Jual Barang,
dan Jumlah Tenaga Kerja Pasar Tradisional Sebelum dan Sesudah Adanya
Pasar Modern


JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I - 2006
97
jawab kepada Bupati/Walikota atau Gubernur khusus untuk Pemerintah
Propinsi DKI Jakarta;
7). Kewenangan penerbitan IUPM dan/atau IUTM berada pada Menteri.
Namun demikian, kewenangan Menteri dapat diserahkan atau dilimpahkan
baik kepada Bupati/Walikota atau Gubernur untuk Pemerintah Propinsi
DKI Jakarta;
8). Pasar modern/toko modern dapat melakukan kegiatan usaha setelah
memiliki IUPM dan/atau IUTM;
9). Toko modern yang berada di dalam pasar modern tidak diwajibkan memiliki
IP2TM tetapi wajib memiliki IUTM.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis sebagaimana diuraikan di atas, penelitian ini
menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
(1) Beberapa kebijakan Pemerintah telah dikeluarkan untuk menata
pengelolaan perpasaran, baik pasar modern maupun pasar tradisional.
Implementasi kebijakan ini menuntut komitmen lebih besar agar dapat
dilaksanakan secara konsisten;
(2) Secara makro, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran
pasar modern telah mengancam eksistensi pasar tradisional. Fakta ini
antara lain diungkap dalam penelitian AC Nielson yang menyatakan bahwa
pasar modern telah tumbuh sebesar 31,4%. Bersamaan dengan itu, pasar
tradisional telah tumbuh secara negatif sebesar 8%. Berdasarkan
kenyataan ini maka pasar tradisional akan habis dalam kurun waktu sekitar
12 tahun yang akan datang, sehingga perlu adanya langkah preventif untuk
menjaga kelangsungan pasar tradisional termasuk kelangsungan usaha
perdagangan (ritel) yang dikelola oleh koperasi dan UKM
(3) Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa dampak keberadaan pasar
modern terhadap pasar tradisional adalah dalam hal penurunan omzet
penjualan. Dengan menggunakan uji beda pada taraf signifikansi a =
0,05, hasil analisis menunjukkan bahwa dari 3 variabel yang diteliti, variabel
omzet penjualan pasar tradisional menunjukkan perbedaan yang signifikan
antara sebelum dan sesudah hadirnya pasar modern dimana omzet seelah
ada pasar modern lebih rendah dibandingkan sebelum hadirnya pasar
modern. Sedangkan variabel lainnya, yaitu jumlah tenaga kerja dan harga
jual barang tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
(4) Berdasarkan hasil analisis terhadap perilaku konsumen, diperoleh hasil.


JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I - 2006
99
Nielson, C. 2003. Modern Supermarket (Terjemahan AW Mulyana). Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia.
Sinaga, Pariaman. 2004. Makalah Pasar Modern VS Pasar Tradisional. Kementerian
Koperasi dan UKM. Jakarta : Tidak Diterbitkan.
(Footnotes)
1 Hasil penelitian kerjasama antara Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK,
Kementerian Koperasi dan UKM dengan PT Solusi Di
namika Manajemen, tahun 2005
2 Bekerja pada Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK

Sumber :

http://www.smecda.com/kajian/files/jurnal/Hal_85.pdf



Tulisan diatas termasuk dalam kategori riset ilmiah. Karena Tulisan di atas mengacu pada segmen yang ingin dikaji dan menghasilkan data-dat yang memberikan jawaban dari permasalahan sebelumnya.